
Bahasa Minang Budaya Minang Bundo Kanduang Cerpen - Carito Nagari Palanta PDRI Pendidikan Podium PRRI Seni - Sastra - Wisata Tambo Tokoh Kewarisan Harta Pusaka di Minangkabau (Kritik Amir Syarifuddin atas Ahmad Khatib al-Minangkabawi) Adat Salingka Nagari dan Generasi Muda Penghapusan Pemerintah(an) Propinsi, Ide Siapa? Memotret Hukum Kewarisan Islam di Minangkabau Managemen Kekayaan Daerah dan Potensi Wisata Sumatra Barat Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Televisi Lokal, Kekuatan Lokal Sjech. M. Djamil Djambek, Tokoh Adat yang Terlupakan Institusi Seni-Budaya dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Pasar Seni Sumatra Barat Siapakah Yang Dapat Mengubah Nasib Kebudayaan Minangkabau? Tuanku Yang Keramat Mau Ke Mana STSI Padang Panjang? Wanita Boleh Jadi Wali Nagari Fakta dan Pengalaman Lembaga Adat Dalam Memperjuangkan Hak Tanah Ulayat Masyarakat Adat Tempatan:: Daftar Artikel :: |
Hilangnya Anak Minang di Ranah MinangTukang tulih Zilfannanda, STPakan, 23 Februari 2008 - 17:48 / As-Sabt, 15 Safar 1429 H Kehidupan di ranah Minang adalah kehiduan yang penuh dengan kata mufakat untuk menyelesaikan suatu masalah. Dahulu banyak sekali cerita indah yang kita dengar tentang kehidupan sosial orangtua kita di ranah Minang ini. Kehidupan masyarakatnya yang suka gotong-royong, nilai dasar agamanya yang begitu kuat dan keindahan alamnya yang begitu mempesona. Suku Minang sangat berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia, karena garis keturunannya yang lebih dekat kepada garis Ibu. Sebenarnya kekuatan mendasar dari ranah Minang ini adalah masyarakatnya yang religi dan kepercayaan diri terhadap diri sendiri yang tinggi sekali, walaupun kepercayaan diri yang tinggi itu bisa jadi bumerang bagi kegagalan diri sendiri. Sama dengan tempat-tempat lain di negara Indonesia ini, Minangkabau memiliki aturan-aturan kehidupan sendiri dalam lingkungannya. Kata yang sering kita dengar "Adat basandi sara’, sara’ basandi kitabullah" selalu melekat dalam kehidupan di ranah Minang. Ranah Minang pun telah mengatur tata cara dalam berkomunikasi dengan orang lain yang tertuang dengan "kato nan ampek", yaitu kato mandaki, mandata, malereng dan manurun. Kehidupan surau sering juga kita dengar dari orangtua kita, dimana remaja laki-laki dahulu sering tidur di surau, yaitu untuk menuntut ilmu agama dan belajar silat. Keindahan cerita lama dari orangtua kita tentang ranah Minang dahulu, yang rasanya nyaman dan kita rindukan kembali suasananya ketika kita dengarkan cerita-cerita orangtua, mulai terasa berkurang apabila kita lihat kenyataan saat ini. Banyak sekali orang-orang Minang mulai meninggalkan ciri khas minang yang religi. Kebanyakan orang Minang saat ini hanya mengambil warisan rasa percaya diri yang tinggi dari orangtua mereka, walaupun konteks rasa percaya dirinya sudah berbeda. Rasa percaya diri yang dipakai saat ini adalah rasa percaya diri yang tidak peduli dengan nasehat orang lain apalagi dengan adat-istiadat, walaupun mereka melakukan perbuatan yang sudah jauh dari agama, yang kata anak muda sekarang dinamakan "cuek". Mereka lebih sering berada di mal-mal, kafe-kafe bahkan sampai ke diskotik untuk menghabiskan waku mereka. Jarang sekali kita melihat saat ini mereka menuntut ilmu agama dan belajar silat di surau-surau. Pendidikan yang mereka dapatkan sekarang dijadikan tameng untuk "melegalkan" budaya yang sudah jauh dari akar budaya minang. Memakai narkoba dianggap sebagai pergaulan, bermesraan dua sejoli di muka umum merupakan hal yang biasa dan memakai pakaian yang seronoh dianggap hak azazi. "Sebenarnya hak azazi itu mempunyai arti untuk menjaga nilai-nilai suci yang ada dalam diri manusia yang dibawa dari lahir ketika manusia itu masih bersih dari dosa, bukannya berusaha mengingkari nilai-nilai suci tersebut". Banyak sekali cerita-cerita yang kita dengar dan lihat dengan mata kepala kita sendiri tentang hilangnya nilai-nlai positif budaya Minang, mulai dari pejabat-pejabat yang terkena kasus narkoba dan korupsi sampai sepasang remaja sekolah yang ketahuan berbuat belum sepantasnya yang diabadikannya dalam handphone mereka. Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Kelebihan orang Minang banyak sekali, beberapa diantaranya ialah pandai dalam berkomunikasi dan memiliki jiwa pemimpin, tetapi dengan kelebihannya itulah yang membuat permasalahan di ranah Minang. Memimpin masyarakat di ranah Minang ini, adalah suatu pekerjaan yang sulit, karena masyarakat Minang itu kebanyakan ingin semua jadi pemimpin. Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Di rantau pun jarang sekali orang Minang yang sudah berhasil, mengajak saudara sekampungnya untuk mengikuti jejak keberhasilannya, kebanyakan orang Minang di rantau, berusaha dengan memulai sendiri-sendiri untuk mencapai suatu kesuksesan. Keberhasilan seorang Minang di rantau ditunjukkan untuk melihatkan keberhasilannya kepada saudara-saudaranya sesama orang Minang, bukan keberhasilannya itu dijadikan untuk membantu saudara-saudara Minangnya menjadi berhasil seperti mereka hidup di rantau. Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Banyak harapan dari semua pihak untuk ingin mengembalikan keindahan kehidupan sosial di ranah Minang, para pakar dengan teori-teori cemerlangnya, datuk-datuk dengan ilmu adatnya, ulama-ulama dengan pendalaman agamanya, tetapi perubahan yang diharapkan terjadi malah jauh dari harapan. Kebiasaan-kebiasaan yang beberapa puluh tahun lalu merupakan hal tabu di ranah Minang, saat ini menjadi hal yang biasa bahkan dijadikan suatu kebiasaan. Para pakar di bidangnya sering mengatakan bahwa ini hal biasa terjadi seiring berkembangnya teknologi, tapi bukankah di ranah Minang mempunyai akar yang kuat yaitu agama? Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Jauh di masa lampau, saat adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Timur Tengah, tidak melunturkan budaya dan agama mereka, tetapi adanya perubahan kehidupan sosial ke arah yang lebih baik, bukan sebaliknya berubah ke arah yang jauh dari baik. Beberapa analis ada juga yang berhipotesis bahwa hilangnya nilai-nilai postif di ranah Minang ini disebabkan bangsa kita yang sudah lama terjajah, sehingga lebih mudah untuk menerima sesuatu yang baru walaupun akan berdampak negatif terhadap lingkungan sosial. Tetapi bukankah orang Minang ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi, yang akan bertahan dengan kebenaran pendapatnya? Banyak juga pendapat yang mengatakan bahwa masalah ini terjadi karena kurangnya pendidikan yang di dapat masyarakat Minang, tetapi bukankah masyarakat Minang banyak yang sudah merantau dan mencari ilmu di negeri seberang bahkan sampai menuntut ilmu ke Mesir dan Amerika? Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Sebenarnya banyak sekali penyebab hilangnya nilai-nilai positif di Ranah Minang, tetapi kita jangan terlalu larut dengan bahasan penyebabnya, sebab perubahan-perubahan terus bergerak cepat seiring dengan waktu yang tiada henti. Kenyataan yang dihadapi sekarang harus kita selesaikan dengan secepatnya, para pembuat kebijakan dan peraturan-peraturan di daerah ini sesegera mungkin menerapkan kebijakan dan peraturan-peraturan yang dibuatnya dengan penuh tanggungjawab kepada nilai-nilai luhur Ranah Minang, pelaksanaannya dimulai dari pembuat kebijakan dan peraturan-peraturan itu sendiri, aparat-aparat yang terkait sampai juga dengan masyarakat. Jangan pernah lagi kita mendengar adanya korupsi "berjamaah" di daerah ini. Masyarakat minang harus berani menegakkan kembali lingkungan yang religi di daerahnya dan mau mengikuti aturan yang berlaku serta siap menerima sangsi apabila tidak takut melanggar peraturan. Para perantau yang ketika mereka di rantau, sering berpegang dengan kata indah minang "Dima langik dipijak, disitu langik dijunjuang", hendaknya ketika mereka pulang ke Ranah Minang, kembali mengikuti nilai-nilai luhur di Ranah Minang, bukannya membawa pengaruh nilai-nilai negatif dari rantau yang akan merusak nilai-nilai luhur di Ranah Minang. Pemerintah daerah dan masyarakat secara bersama-sama mengadakan lagi acara-acara kesenian dan budaya Minang yang sudah jarang sekali kita saksikan di berbagai acara, sehingga masyarakat Minang, kembali teringat dan mengetahui lagi bagaimana indahnya budaya luhur nenek moyang mereka dahulu.*** Zilfannanda, Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Zilfannanda, ST kelahiran Bukiktinggi dan sarjana Teknik Geodesi UGM sekarang bekerja sebagai peneliti Bidang Geodesi di Pemkab Dharmasraya berdomisili di Tarok Dipo, Bukiktinggi Zilfannanda, ST - Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Komentar Nan Mambaco... Tulisan hanya dapat dikomentari 7 hari sejak dipublikasikan dan komentar hanya akan ditampilkan selama 7 hari sejak tanggal publikasi tulisan.
|
|
|
| Depan | Info Iklan | Keanggotaan | Tentang Kami | Redaksional | Disclaimer | Copyright | RSS Service | Sitemap |
© 2004-2006 Ranah-Minang.Com |