Bahasa Minang Budaya Minang Bundo Kanduang Cerpen - Carito Nagari Palanta PDRI Pendidikan Podium PRRI Seni - Sastra - Wisata Tambo Tokoh Kewarisan Harta Pusaka di Minangkabau (Kritik Amir Syarifuddin atas Ahmad Khatib al-Minangkabawi) Adat Salingka Nagari dan Generasi Muda Penghapusan Pemerintah(an) Propinsi, Ide Siapa? Memotret Hukum Kewarisan Islam di Minangkabau Managemen Kekayaan Daerah dan Potensi Wisata Sumatra Barat Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Televisi Lokal, Kekuatan Lokal Sjech. M. Djamil Djambek, Tokoh Adat yang Terlupakan Institusi Seni-Budaya dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Pasar Seni Sumatra Barat Pindahnyo Warih Dari Anak Kapado Kamanakan Ketika Sumatra Barat Tidak Lagi Menjadi "Industri Otak" M.G. Emeis dan Kenangan Kepada "Si Djamin" dan "Si Piah" Cerita-Cerita Lapau Seputar Hikayat Cindua Mato Kembali ke Pemerintah Nagari:: Daftar Artikel :: |
Menelusuri Jejak Intelektual Minang Melalui ManuskripTukang tulih Azwar T. MudaAkhaik, 05 November 2006 / Al-Ahad, 13 Shawwal 1427 H Minangkabau pernah terkenal dengan tradisi intelektual yang dibangun dari surau. Banyak bukti historis yang menunjukkan kebenaran hal ini. Azra dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, menuliskan bahwa pada tahun 1643, di Kerajaan Aceh pernah terjadi kegoncangan politik akibat perseteruan Al-Raniri dengan Syaf Al-Rijal (Ulama Minangkabau). Kegoncangan politik ini berakibat buruk terhadap perekonomian masyarakat Aceh, karena perdagangan dengan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) yang dipimpin oleh Peter Sourij terganggu. Untuk mengatasi pertikaian itu dimintalah Sultanah Shafiyyah Al-Din, pemimpin Kerajaan Aceh, untuk mengambil kebijakan untuk memutuskan masalah itu, namun Sultanah menolak karena dia mengakui tidak banyak pengetahuan tentang agama. Maka dia menyerahkan kasus itu ke tangan Uleebalang (Para pemangku adat). Pada tanggal 27 Agustus 1643, Uleebalang memutuskan bahwa Syaf Al-Rijal memenangkan perseteruan itu. Karena kemenangan itu, Syaf Al-rijal dipanggil ke istana untuk menerima perlakuan sebagai tokoh terhormat. Sedangkan Ulama besar Al Raniri terpaksa meninggalkan Aceh (Azra, 2004 : 215).
Hanya Pelanggan yang dapat mengakses arsip-arsip tulisan Ranah-Minang.Com Menelusuri Jejak Intelektual Minang Melalui Manuskrip oleh Azwar T. Muda |
|
|
| Depan | Info Iklan | Keanggotaan | Tentang Kami | Redaksional | Disclaimer | Copyright | RSS Service | Sitemap |
© 2004-2006 Ranah-Minang.Com |