Bahasa Minang Budaya Minang Bundo Kanduang Cerpen - Carito Nagari Palanta PDRI Pendidikan Podium PRRI Seni - Sastra - Wisata Tambo Tokoh Kewarisan Harta Pusaka di Minangkabau (Kritik Amir Syarifuddin atas Ahmad Khatib al-Minangkabawi) Adat Salingka Nagari dan Generasi Muda Penghapusan Pemerintah(an) Propinsi, Ide Siapa? Memotret Hukum Kewarisan Islam di Minangkabau Managemen Kekayaan Daerah dan Potensi Wisata Sumatra Barat Hilangnya Anak Minang di Ranah Minang Televisi Lokal, Kekuatan Lokal Sjech. M. Djamil Djambek, Tokoh Adat yang Terlupakan Institusi Seni-Budaya dan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Pasar Seni Sumatra Barat Imam Maulana Abdul Manaf: Manusia Langka Dari Minangkabau Sisiphus Pengenalan Dan Beberapa Persoalan Jenaka Minangkabau Pola Pikir Perempuan Minangkabau dan Tantangannya ke Depan Kerinduan dan Kuasa:: Daftar Artikel :: |
Nazam Dalam Tradisi Kesenian MinangkabauTukang tulih YusriwalSalasa, 21 Maret 2006 / Ats-Tsalatsa, 20 Safar 1427 H Istilah "nazam" dapat dirujuk pada beberapa keterangan. Dalam Kamoes Bahasa Minangkabau-Bahasa Melayoe Riau, terbitan Batavia (Jakarta) 1935, tidak dijumpai kata "nazam", namun dapat disamakan dengan "nalam" yaitu nazam: banalam-bernazam, bertjerita dengan lagoe teroetama tentang agama atau jang berisi pengadjaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, terbitan Balai Pustaka 1988, ditemukan kata "nalam" dan "nazam". "Nalam" adalah gubahan sajak (syair, karangan); bernalam, membaca puisi atau bercerita dengan lagu; bersajak (bersyair). "Nazam" adalah puisi yang berasal dari Parsi terdiri atas dua belas larik, berirama dua-dua atau empat-empat, isinya perihal hamba sahaya istana yang budiman.
Hanya Pelanggan yang dapat mengakses arsip-arsip tulisan Ranah-Minang.Com Nazam Dalam Tradisi Kesenian Minangkabau oleh Yusriwal |
|
|
| Depan | Info Iklan | Keanggotaan | Tentang Kami | Redaksional | Disclaimer | Copyright | RSS Service | Sitemap |
© 2004-2006 Ranah-Minang.Com |