Ranah-Minang.Com
| Depan | Forum Diskusi | Arsip Berita | Kirim Berita | Kirim Tulisan | Info Iklan | Kotak Pos | Lapau Online | Search | Sitemap | Login | Webmail |
Rubrik Berita
Kapalo Kaba Salingka Sumbar Wisata - Budaya Padang Piaman Liputan Khusus DPRD Sumbar Payokumbuah Bukiktinggi - Agam Pasisia Solok Pendidikan - Olahraga Sawahlunto Solok Selatan Mentawai
Lapau Online
A. Samad Idris - Payung Terkembang
A. Samad Idris - Payung Terkembang
Harga: Rp 40.000,-
Jajak Pendapat #11
Pendapat anda tentang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia)

Aktif dari Jumaik, 10 Februari 2006 - 13:08 sampai Kamih, 01 Maret 2007 - 16:27
Jumlah pemilih: 1084

Perjuangan Koreksi
78.97% [pemilih: 856]
Peristiwa Pemberontakan
8.76% [pemilih: 95]
Tidak Tahu
12.27% [pemilih: 133]


- Nantuo | 10/02/06 : 22:56
Masih banyak yang 'sensitif' berbicara tentang PRRI. Banyak yang takut-takut, karena walau bagaimana, peristiwa PRRI telah banyak merobah berbagai kultur bagi orang-orang Minangkabau.

Berbagai tulisan sudah banyak mengupas tentang itu (termasuk yang dihedangkan oleh RM.com), sehingga sedikit demi sedikit rasa yang sensitif dan takut-takut itu sudah semakin berkurang.

Dizaman Orde Lama, kata PRRI adalah momok. Kemudian dizaman Orde Baru, mulai berkurang pula. Malahan ada beberapa orang PRRI dipakai duduk di Kabinet seperti Prof Soemitro misalnya.

Dizaman Orde Reformasi sekarang, sudah waktunya untuk melihat situasi: apakah membicarakan PRRI akan bisa 'mambangkik batang tarandam'? Tentunya tergantung dari kaca mata yang dipakai untuk mengamatinya. Yang pasti, TAK ADA GADING YANG TAK RETAK.......

- Nan Tasasek | 12/02/06 : 00:52
Dalam konteks bernegara, hal terpenting yang perlu diluruskan menurut saya, seperti pertanyaan polling ini, apakah PRRI itu memang peristiwa pemberontakan, atau salah satu usaha anak negeri ini dalam mengkoreksi pemerintahan yang dipimpin orang-orang bermental bobrok.

Sementara khusus untuk masyarakat Minang, kajian tentang peristiwa PRRI, baik sebelum dan sesudahnya, setidaknya mungkin bisa menjadi bahan pemikiran untuk dicarikan solusinya, seperti ditulis Nantuo, tentang perubahan (KEMUNDURAN) kultur dan budaya masyarakat Minang.

Yang pasti, GADING MEMANG SELALU RETAK... ;)

- calio | 27/02/06 : 10:35
Ketika adanya PRRI, saya belum lahir kedunia. Tapi orang tua saya adalah termasuk aktifis pemberontakan itu. Setahu saya beliau tidak minder, karena menurut beliau, memang kita kalah dalam berperang, tetapi tidak kalah dalam ideologi. Hanya saja diakui memang ada beberapa salah perhitungan para pimpinan waktu itu. Ada beberapa hal yang belum matang. Itu saja.

Sekarang banyak ide PRRI yang diterapkan seperti misalnya "otonomi daerah" (walau salah kaprah), anti komunis, dll yang prinsip.

Jadi sudah saatnya para cendekiawan sekarang mengkaji kembali tentang berbagai pemberontakan daerah dan PRRI khususnya. Kita tidak usah malu belajar kepada pengalaman. Kalau memang salah, tentu akan diperbaiki selanjutnya. (calio)

- andesties21 | 01/04/06 : 14:39
PPRI membuktikan bahwa masyarakat Minangkabau berani dalam menyatakan pendapat yang diyakininya ,,,,terlepas dari benar atau salah (bukankah yang tau benar atau salah itu hanya Allah SWT). "Keberanian" itulah yang jarang kita dapatkan sekarang di masyarakat Minang. Asal bapak Senag (ABS) sudah tidak jaman lagi, waktunya lah kita menunjukkan keberadaan kita pada dunia,,,!!!!

Jangan minder dengan ungkapan Gusdur : Orang Minang hanya bangga dengan masa lalu
Buktikan kalau kita mampu: Mambangkik Batang Tarandam

- calio | 23/08/06 : 10:43
Kembali, setelah membaca beberapa artikel dari mamanda Kamardi Rais Dt P Simulie, semakin jelas bagaimana PRRI itu sesungguhnya. Dihubungkan pula dengan ucapan Bp Vience Sumual (dl wawancara dg RCTI 17 Agustus pagi) yang antara lain mengatakan bahwa PEMBERONTAKAN TERHADAP PEMERINTAHAN, TIDAKLAH IDENTIK DENGAN PENGHIANATAN TERHADAP BANGSA DAN NEGARA.

Jika ditilik dari topik pooling RM ini, jelas bahwa perjuangan PRRI/ Permesta adalah suatu perjuangan koreksi terhadap pemerintahan waktu itu. Secara tdk langsung hal ini diakui oleh pemerintahan Sukarno, dengan membubarkan kabinet Juanda, dan kembali kepada UUD'45 (Dekrit Presiden 5 Juli 1959). Bukankah sesungguhnya ini yang dituntut oleh PRRI? (Pembubaran kabinet Juanda dan mengembalikan kepada Presiden).

Bahwa PRRI adalah suatu pemberontakan, itupun dapat dibenarkan pula, yaitu dengan adanya statement untuk "TIDAK MEMATUHI PEMERINTAHAN SUKARNO" (lihat: Ultimatun Padang)

Dari ultimatum itu dapat dipelajari bahwa PRRI MELAKUKAN KOREKSI TERHADAP PEMERINTAH namun MEMBERIKAN SOLUSI YANG JELAS PULA untuk mempertahankan NKRI. Jelas lah bahwa PRRI tidak anti NKRI. Berarti tidak berhianat kepada bangsa dan negara. Hanya karena pemerintah pusat waktu itu 'menolak total' usulan itu, maka dengan agak emosional PRRI melakukan konfrontasi langsung dengan pemerintahan Sukarno.

Mungkin orang2 PRRI tidak pernah memperkirakan bahwa 'pusat' akan menggunakan kekuatan senjata untuk menghentikan mereka. Mereka memperkirakan bung Karno akan beradu argumentasi dengan mereka. Untuk ini terlihat PRRI sangat siap, yaitu dengan memiliki para diplomat dan politisi yang handal.

Tetapi ketika pemerintah pusat 'tidak berani' beradu argumentasi, dan justru melakukan invasi militer, maka PRRI yang hanya memiliki tentara dari Divisi Banteng saja, tidak dapat berbuat banyak. Memang ada bantuan dari mobilisasi umum melalui Sukarelawan, Tentara Pelajar, dll.... Tetapi kesemuanya itu bukanlah 'tentara2' tangguh, utk menghadapi (APRI) yang memiliki persenjataan yang jauh lebih lengkap.

Tentang kebenaran sejarah inilah, kiranya sangat perlu untuk diungkap kembali. Selama ini 'pemberontakan PRRI telah dianggap sebagai 'cacad' bagi warganya yang nota bene adalah orang2 Minangkabau. Mereka dianggap pemberontak penghianat bangsa, disamakan dengan pemberontakan lain.

Jika ditarik garis dengan GAM misalnya, jelas2 GAM itu menantang NKRI, sedangkan PRRI justru ingin menyelamatkan NKRI. Tetapi orang2 GAM sekarang justru diberi bantuan besar2an oleh pemerintah, sedangkan ex-PRRI dianggap sebagai 'penjahat'.

Yang perlu diupayakan sekarang, 'mungkin' adalah suatu penglurusan sejarah untuk rehabilitasi nama dan identitas. Apakah ini melalui suatu simposium dan seminar? Atau bentuk2 lainnya? ....... sangat tergantung kepada berbagai situasi dan kondisi yang ada.

Sebagai generasi penerus, saya pribadi merasa 'tidak perlu malu dan takut' untuk mengungkapkan segala sesuatu YANG BENAR itu. Sekarang masih banyak ex-pelaku PRRI yang masih hidup. sebentar lagi semua akan punah, dan kita akan kehilangan data dan fakta. Oleh sebab itu mari kita gunakan 'moment' yang tersisa ini untuk berbuat sesuatu. (anak bangsa: Calio)

- moneng | 14/09/06 : 09:04
Menarik, apa yang di sampaikan sanak calio..
PRRI tidak sama dg GAM...tapi GAM yang jelas-jelas bertentangan dg NKRI mendapat tempat dan perhatian yang besar dari pemerintah...
terlepas dari konteks politik yang ada, PRRI adalah murni perjuangan koreksi (menyesuaikan pilihan polling), tapi menurut saya yang hanya tahu cerita dan kisahnya saja dari ayah yang terpaksa berhadapan dengan kawan-kawannya hanya karena ayah saya adalah seorang veteran eks BKR (TNI sekarang)..adalah perjuangan yang kemudian terkontaminsasi oleh disusupinya kepentingan-kepentingan termasuk komunis...banyak orang kampung yang dak tau apa-apa menjadi korban...memang PRRI kemudian menjadi perjuangan emosional dari daerah yang tertindas, tapi jelas berbeda dengan GAM.
tabik.

- scoatyden | 19/09/06 : 20:52
PRRI terjadi karena umat islam kecewa karena SYARIAT ISLAM tidak menjadi landasan hukum di Indonesia yang seharusnya ISLAM yang paling berhak atas Negara ini

- Ajo Sunur | 19/09/06 : 21:07
Baa ko Nantuo? Scoatyden agak lain pandapeknyo tentang pemberontakan PRRI.
Cubolah agiah analisis nan agak mandalam Scoatyden. Bagus juo mah pendapat Scoatyden. Nan pandapek pakar lain sakuati e pulo lah...

- stmantiko | 26/09/06 : 17:55
hahahaha....
panjang leba calio bakatubah ttg PRRI jo sagalo sajarahnyo, bahkan sampai GAM bagai nan basabuk-sabuk. Mungkin agak 4-5 buku sajarah lah di jaja dek chalio..........
Eeeeeeeeeeeeeeee, scoatiden manyolo pulo baraso PRRI tu terjadi no dek karana kecewa jo SYARI'AT ISLAM............
Heiii yaaaaaaaaayyyyyyyaaaaaaaaaaaaaaaay....
Tambah paniang pengamat nampak e...
Hahahahaha....
Lok elok jadi pengamat sanak.... Babelok pangana tu bekoooooooo
Antah laaaahhhh

- delfion | 27/09/06 : 15:33
Mengkaji ulang sejarah PRRI saya rasa tepat untuk dilakukan saat ini dimana bangsa ini tengah terus mencari format yang baik dalam proses kepemerintahan. Apalagi munculnya otonomi daerah pasca runtuhnya rezim orde baru menjadi sebuah alternatif yang perlu terus kita perbaiki. ini dapat kita lihat dengan telah direvisinya dua kali UU Pemerintahan Daerah (baca UU Otda). Mudah-mudahan dengan melihat lagi proses meletusnya PRRI yang tak lain juga merupakan buntut dari pertikaian daerah dan pusat yang dibumbui dengan muatan politik dan idiologi, hal ini bisa menjadi pelajaran bagi kita anak negeri. Dan tak perlu malu kita sebagai orang minang dengan adanya PRRI, kalau saya boleh sebut, ini sebuah kebanggaan menurut saya, karena PRRI disatu sisi menggambarkan sikap mental kita sebagai orang minang, seperti pepatah kita raja alim raja disembah, raja lalim raja disangah.

- proto | 27/09/06 : 15:59
heheheh..baa kaba stmantiko ? walau ka baa nan namonyo mambarontak yo mambarontak..apopun kemasannyo apokah itu di embel embeli koreksi, apokah di embel2 jo desentralisasi apokah di embel embeli syariat Islam ataupun komunis..tetap sajo malawan pemerintahan itu dan indak manuruki pemerintah adolah pemberontakan..apo lai alah tabuklti dibantu dek USA sagalo...

kini kito tangadahkan selah kapalo baliak..manga lo malu jo PRRI tuh..toh urang minang juga manusia..punya hati punya rasa dan pernah salah hehehe..samakin banyak kito mancari pembenaran samakin yakin urang kalau kito tuh salah..ingat sejarah tidak pernah bohong...yang bohong nan manulih...hehehehe

- Nan Tasasek | 28/09/06 : 13:50
Persoalan disini bukan malu atau tidak. Orang Minang yang terlibat PRRI tidak pernah merasa malu mengakui bahwa mereka seorang PRRI. Mungkin, orang Minang yang tidak terlibat atau lahir setelah PRRI lah yang merasa malu. Mungkin, masyarakat Minang yang mendukung operasi tentara pusat-lah yang merasa malu, karena ikut membantai dan membunuhi saudara Minangnya sendiri. Mungkin, masyarakat Minang yang gado-gado lah yang merasa malu mengakui bahwa diranah ini pernah muncul sebuah gerakan menentang pemerintah yang sedang menuju ke pemerintahan lalim, pemerintahan diktator.

Kalau masalah dibantu Amerika kemudian dibilang bahwa PRRI sebuah pemberontakan, akhh.. perbanyaklah membaca buku, dan perbanyaklah menengok dunia luar. Sekarang, berapa banyak (KATANYA SIH...) lembaga swadaya masyarakat menerima bantuan pihak luar...?? Kita juga tahu, banyak dari mereka yang berseberangan dengan pemerintah, tidak turut dengan keinginan pemerintah. Lantas, apakah kita juga harus (selalu) bilang bahwa mereka kumpulan pemberontak...??

Karena itu, biar tidak dibohongi, jangan hanya membaca dari buku. Tapi, jadilah pelaku atau saksi mata. Atau kalau tidak mungkin dan tidak memungkinkan, berbicaralah dengan pelaku dan saksi mata. Atau minimal, bacalah buku, tulisan, makalah, dll, dari dua sudut pandang.

- moneng | 28/09/06 : 14:44
Eh..sanak sadonyo...tanyato nan tasasek lai bisa lo bahaso indonesia, malah santiang bana jawabannyo...
lah basobok jo jalan luruih sanak kito ko..mah

- Ajo Sunur | 28/09/06 : 18:40
Eh...iya...tidak disangka-sangka kiranya Nan Tasasek padat bahasa Indonesianya!
Cap ampu!

- Nantuo | 28/09/06 : 23:29
Bagaimana pula ka tidak? Tiap hari inya dirumah bargonjong. Nan disanan nantun orang iya berbahasa indonesia saming.... tarutama kalau berpidata. Tapi Nantersesat ini kalau berbahasa Minang, acap 'key board' nya rusak.... huruf "r" terpasa disuratkan "w"..... Haaa, itu pula itu...... Hih, hik, hik..... (teretawa satu dulu).

- Nan Tasasek | 28/09/06 : 23:43
Salain jajok, subana e gagik ambo baso kesatuan kecek uwang tu mah. Tapi salain uwang awak, bia ndak tantu lo dek uwang-uwang lain, uwang-uwang nan bawasa dari singiang-ngiang wimbo tantang pewi-pewi.

Satantang baso, kalau baso uwang kampuang ambo, iyo ndak jaleh jo r tu doh nantuo, badawuih lidah e kalau mangecek jo huwuf r tu.. Urang subalah dapua Ajo Sunua kan bantuak itu pulo mah he.. Antah kok indak... pariaman kecek urang, piaman kecek wa e hehe..

- moneng | 29/09/06 : 10:36
Kecek uwang piaman tuw, kok ndak adow wee tuw, mako kapia sighah kito ko sadoalahe...

- proto | 29/09/06 : 10:40
wah sabana mantap pandapek Mak Nan Tasasek tadi...nyo baiko Mak..apo ado contoh nan alah tajadi koreksi tahadok pemerintah nan dilakukan melalui caro basenjata..selain dari pado untuak mamanuhi syahwat politik, ekonomi dan kekuasaan ? bantuan amerika bukanlah bantuan uang untuk menghapus kemiskinan melainkan bantuan persenjataan malah termasuk pilotnya segala..apakah ini bukannya pemberontakan yang dikemas sedemikian rupa sehingga imagenya adalah koreksi ? kita tahu amerika tidak menyukai soekarno yang terlalu vokal akhirnya mnurut saya amerika menafaatkan keinginan mayoritas masyarakat sumbar untuk mengkoreksi pemerintah dengan memberi bantuan senjata kepada orang orang yang punya syahwat politik itu tadi..isu dikemas baik sehingga orang sekaliber Natsir pun tertipu apalgi rakyaik badarai..

ayah ambo pun ikuik dalam PRRI dulu dan katonyo memang sanjato canggih canggih..lah kalau memang koreksi kok bisa sanjato labiah canggih dari APRI ? berarti memang alah dipersiapkan sebelumnyo...

hehe ambo kan punyo sudut pandang pulo mah..alah duo suduik pandang kito..hehehe

- Nan Tasasek | 29/09/06 : 18:29
Lai lah gaek Proto salah surang nan mandukuang PRRI, tapi nan dikana cuma canggih indak badia sae. Indak batanyoan apo sabab mangko akhie e nan banamo Dewan Perjuangan tu barubah jadi PRRI..?? Baa mangko akhie e PRRI pun mangokang badia..?? Indak batanyoan ka gaek tu sia nan dulu maampai jo badia..?? Indak batanyoan ka gaek baa kudian e HAMPIA ka sado urang Minang maraso bakainginan untuak mambantu PRRI..??

Tanyoan bana lah ka gaek sanak tu, lai ka adoh pilot bayaran dari amerika, taiwan jo filifina tu di PRRI untuak baparang...??

Kalau mangecek amerika mamanfaatkan urang Minang dalam kasus PRRI, sasek aia namo e tu. Ijan manjolang bana kapalo mancaliak amerika tu, hinggo sado kejadian bantuak inyo nan mamulai, inyo nan mamanfaatkan urang.

Urang Minang nan mamanfaatkan amerika sahinggo dapek bantuan sanjato nan kudian dijatuhan amerika di Singkarak. Urang Sumatra alah panuah paruik e mancaliak laku parangai sukarno nan lah co diktator jo ma arah ka kumunih, mangko e muncul gerakan Dewan Perjuangan. Kabatulan, amerika nan takuik kalau indonesia jadi negara kumunih, mancaliak adoh nagari nan lai namuah malawan, menawarkan sanjato. Mancaliak pusat ka manyalasaian jo sanjato, mangko e ditarimo bantuan sanjato tu.

Kalau memang awal muncul e PRRI ka mambarontak, mamisahan diri managakan nagari surang, adoh kamungkinan babeda jalan sajarah nagari ko. Sajak tahun 1956-an gerakan koreksi ko muncul. Akan adoh pelatihan tantara, bukan "tantara dadakan". Akan adoh latihan manggunoan sanjato bantuan canggih tu. Sahinggo indak akan banyak kajadian sanjato canggih tu sakadar dibaok balari-lari sae katiko tantara pusek basilantah angan mambunuhi urang kampuang.

- MN | 29/09/06 : 19:27
Nan Tasasek ko, satau kito, salah surang korban keganasan tantara pusek. Makonyo, Om ko jaleh deknyo. Kini sadang menggalang kekuatan GMM...

- proto | 02/10/06 : 10:15
o baitu..GMM tyu apo pulo tuh ? apo sebangsa GAM ?

- R.Negara | 21/12/06 : 11:37
PRRI bukanlah sebuah pemberontakan karena pada awal perjuangannya, mereka yang terlibat dalam PRRI
1. masih mengakui Sukarno sebagai Presiden,
2. Masih tetap menggunakan UUD RI (UUD tahun 50),
3. Masih tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan,
4. Masih mengakui NKRI sebagai wadah negara.
5. Masih menggunakan Pancasila (bukan syariah Islam).
6. Mereka yang terlibat dalam PRRI tidak terbatas orang Islam ada juga dari golongan Agama Lain.

Kalau kemudian terjadi pertempuran, maka hal itu disebabkan untuk upaya mempertahankan diri agar mendapat melakukan dialog dengan pemerintah lebih baik lagi.

Tujuan adanya PRRI, bukan untuk membangun sebuah negara yang baru, tetapi lebih ditujukan untuk koreksi total pada pemerintah pusat atas perlakuan tidak adil pada daerah dan pemerintah telah melanggar konsitusi UUD 50 (sebelum dekrit kembali ke UUD 45). Perjuangan PRRI pada akhirnya ada yang telah tercapai antara lain Otonomi Daerah.
Yang belum adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan Rakyat miskin dan kesamaan hukum dimuka peradilan.

Keterlibatan Amerika dalam PRRI pada mulanya bertujuan agar mereka dapat memiliki akses pada sumber minyak di Riau (Caltex dan Stanvac), jika PRRI menang, tetapi keinginan mereka untuk itu ditentang oleh tokoh-tokoh PRRI karena :
1. Mereka tidak ingin lepas dari NKRI,
2. Mereka tidak ingin menjadi antek Amerika,
3. Tokoh PRRI tidak dapat dibeli oleh Amerika. Mereka lebih baik di penjara dirumah tahanan Militer Indonesia (dan meneruskan perjuangannya dipenjara) dari pada lari keluar Negeri, sebagaimana tokoh GAM, meskipun mereka memiliki kesempatan tersebut (sebagai contoh Tokok PRRI Bapak Sumitro).
Kalau kita bandingkan Tokoh PRRI dengan Bung Karno CS, Sukarno CS pada akhirnya dapat didekati oleh Amerika, khususnya dikalangan Mliter hal ini terbukti bahwa banyak peralatan perang NKRI berubah dari Alat Militer Rusia menjadi Alat Militer Amerika, apa lagi setelah Orde Baru.

Tokoh PRRI dekat Amerika untuk mendapatkan senjata tanpa syarat dan tidak mau diperalat untuk menindas rakyat ?, sedangkan Sukarno dan Orde Baru bagaimana ?

Tokoh-tokoh PRRI dipenjara dan tidak pernah di adili atas kesalahannya, meskipun Natsir dan Syafruddin menantang Sukarno untuk mengadili mereka, didepan sidang pengadilan demikian pula Orde baru ? Dan mereka tidak berani mengapa ?

Hal ini mungkin mereka tahu bahwa tokoh-tokoh PRRI itu adalah orang-orang jujur, tidak terlibat korupsi dan dicintai rakyatnya. Disamping itu keterlibatan mereka di PRRI bukan hal yang buruk. Mereka sebenarnya dalah tokoh-tokoh oposisi yang memperjuangkan kepentingan Rakyat dalam wadah perjuangan PRRI. Dan saya tidak akan malu dan demikian pula sahabat-sahabat dari Sumatra Barat tidak perlu malu untuk mengatakan mereka terlibat dalam PRRI, karena PRRI adalah alat perjuangan untuk menjadi Indonesia lebih baik lagi.

Jika saran-saran dan usulan PRRI diikuti oleh Pemerintah Pusat, maka ada kemungkinan kita telah lebih jauh makmur dari sekarang ini, karena pemerintahan yang amanah dan memihak rakyat.

- Nan Tasasek | 22/12/06 : 13:42
Jangan lupakan, orang yang diagung-agungkan di negeri ini namun kemudian terjerambab ke lembah nista sebagai seorang komunis, awalnya menjanjikan amnesti untuk mereka-mereka yang ikut dalam PRRI. Janji yang diucapkan di saat negeri yang katanya negeri persatuan ini merayakan hari bebas dari penjajahan.

Janji yang tidak pernah ditepati. Bukannya amnesti yang mereka dapatkan, tapi penjara. DAN JANGAN LUPAKAN, MEREKA PUN DI SIKSA DISANA. Disiksa oleh saudara yang katanya saudara sebangsa... mungkin sebangsa hewan berkaki empat!

- Uncu | 23/12/06 : 21:38
Keterangan dari Calio dan R Negara (putra Syafruddin Prawiranegara?) merupakan keterangan yang sangat logis, masuk akal, dan nyata dalam realita.

DEWAN PERJUANGAN yang dimotori oleh Dewan Banteng telihat sudah melaksanakan sikap oposisi yang normal terhadap pemerintah RI waktu itu. Namun (mungkin) karena tata negara waktu itu belum terbiasa dengan adanya oposan, maka pemerintah RI menanggapi dengan caranya sendiri, yaitu melalui invasi militer. Mereka tidak melakukan dialog dan diskusi dengan Dewan Perjuangan ini, yang kemudian "terpaksa" membentuk pemerintahan tandingan (PEMERINTAH REVOLUSIONER REPUBLIK INDONESIA). Pimpinan pemerintahan waktu itu, ternyata banyak yang berdiri bersama PRRI ini (M Natsir, Syafruddin PN, Soemitro, Asaat, Kawilarang, Somual, Dahlan Djambek, dll).

Yang dirasakan sekarang hanyalah dampak negatif dari segala peristiwa itu semua, yaitu kekeliruan pemerintah RI waktu itu dalam menanggapi suatu oposisi. Oleh karena itu saya berpendapat, bahwa yang perlu kita lakukan adalah meng"rewind" kembali peristiwa itu melalui suatu sarana yang kongkrit (apakah simposium, dsb), sehingga dampak negatif itu akan dapat dieliminir dalam menghadapi masa-masa mendatang, terutama bagi generasi penerus. DIBUTUHKAN ORANG YANG MAU DAN BERANI MENJADI PROMOTOR.

- R.Negara | 29/12/06 : 16:32
Saya sependapat dengan Uncu, perlu ada sebuah perhelatan akbar untuk dapat mendudukan posisi PRRI di dalam sejarah RI. Yang perlu dipahami bahwa antara PRRI dan PDRI, ada benang merah, khususnya keterkaitan para tokoh-PDRI dalam PRRI.

Dengan ditetapkannya tanggal 19 Desember sebagai "Hari Bela Negara", maka kita mulai dapat maju selangkah untuk membuktikan bahwa Rakyat di "Ranah Minang" telah banyak berbuat yang terbaik untuk NKRI. Diranah minang ini di sekitar tahun 50-han telah konsep Otonomi Daerah dan konsep pembagian kekayaaan yang adil antara pusat dan daerah.

Sejarah perjuangan PRRI perlu di pelajari kembali agar konsep terkait dengan Otonomi Daerah akan lebih jelas lagi.
Oleh sebabab itu kita perlu untuk membuka sebuah diskusi terbuka mengenai peranan PRRI dalam sejarah "Membangun Indonesia untuk mencapai keadilan dan kemakmuran Nasional".





Jajak Pendapat #10
Bagaimana Kinerja Gamawan Fauzi-Marlis Rahman Dalam 100 Hari Kerja

Aktif dari Kamih, 01 Desember 2005 - 21:15 sampai Jumaik, 10 Februari 2006 - 13:08
Jumlah pemilih: 259

Memuaskan
16.99% [pemilih: 44]
Mengecewakan
77.22% [pemilih: 200]
Tidak peduli
5.79% [pemilih: 15]


- MN | 05/12/05 : 19:36
SARATUS HARI DENGAN SEREMONIAL

100 hari pasangan terpilih dalam Pilkada Gubernur Sumatra Barat lalu, Gamawan Fauzi-Marlis Rahman menjadi orang "hebat" di daerah Sumatra Barat, yang mereka lakukan tak lebih hanya melukan kerja seremonial dan pelantikan ini-itu, serta jalan-jalan bila ada bencana.
Apa yang dijanjikan semasa kampanye dulunya, belum terlihat dalam program kerja yang kongret. Pembenahan birokrasi di dalam tubuh "RUMAH BAGONJONG" tempat Gubernur dan Wakilnya berkantor, belum disentuh sama sekali. Padahal, 100 hari berlalu hal ini mesti dilakukan pembenahan menyeluruh.
Untuk 100 hari ini kinerja Gamawan-Marlis boleh dikatakan tidak ada APA-APANYA. Kalau diponten, NILAI 'D' alias MERAH
Salam
MN

- Nan Tasasek | 06/12/05 : 02:11
Ada beberapa hal "positif" yang telah mereka lakukan dalam 100 hari menjabat, yang paling spektakuler... PENGADAAN MOBIL DINAS BARU..!!

- kurnia | 08/12/05 : 17:38
Menjadi Gubernur Sumbar bukanlah kerja yang ringan.Apalagi dalam kondisi ekonomi yang sangat tidak menggembirakan saat ini.Dari sisi Jasmani saja, hitung-hitungan ringkasnya begini: Penduduk Sumbar sekarang ini lebih kurang jumlahnya 4,5 juta jiwa.Kalau setiap orang rata2 makan nasi setiap harinya 1/3 kg beras, berarti Pak Gubernur harus bisa menyediakan beras setiap harinya 1500 ton beras.Kalau kita konversikan ke rupiah,kalau saja setiap orang di Sumbar biaya hidup sehari rata2 Rp.10.000, maka setiap hari Pak Gubernur harus menyediakan peluang pemasukan uang buat rakyat Sumbar sebesar 45 Milyar/hari.Sehingga kalau kita kalikan 100 hari, maka Pak Gubernur kita harus bisa menyediakan beras sebesar 150.000 ton beras atau uang sejumlah lebih kurang Rp.4,5 Triliun. Lihat,betapa beratnya tugas seorang Gubernur.Ini baru dari segi biaya Jasmani,belum lagi dari segi biaya2 untuk hal-hal yang lainnya,pendidikan,sosial,keamanan dsb. Jadi untuk mengukur 100 hari kinerja Gubernur Sumbar,tentunya akan lebih tepat dan jauh lebih bijaksana kalau kita memakai parameter2 yang dapat diukur. Wassalam.

- MN | 08/12/05 : 19:24
Parameter yang Anda tuliskan itu sesungguhnya penghinaan terhadap rakyat Sumatra Barat. Untuk Bung Kurnia ketahui saja, tidak ada pun Gunernur Sumatra Barat, atau Bupati, atau walikota, atau walinagari sekalipun, rakyat Sumatra Barat tidak akan pernah kekurangan makan dan tetap akan makan juga. Tidak ada dalam hidup rakyat Sumatra Barat yang diberi makan oleh Gunernur Sumatra Barat.
parameter tentang makan itu sebagai ukuran yang Anda buat, sama artinya dengan mengukur berat benda dengan meteran. Ukuran yang Anda buat sangat naif. 100 hari Gubernur Sumatra Barat yang kini memerintah, dan jika dikaitkan dengan janji-janji kampenyenya, dan melihat kenyataan yang ada sekarang, sama sekali jauh panggang dari api.
Jadi, jangan mengukur beratnya kerja seorang Gubernur Sumatra Barat dengan ukuran sesuap nasi. Karena makan dan tidak makannya rakyat Sumatra Barat itu tidak ada urusannya dengan Gubernur.
MN

- mrajo | 09/12/05 : 13:51
Mungkin karano ambo jarang mambaco koran terbitan Sumbar, atau mungkin juo Pak Gamawan ini jarang di ekspos oleh koran nasional, jadi ambo minim informasi tantang baliau iko, sahinggo dikapaloko
nan tagambar mengenai Pak Gubernur adolah :
- Agak barasiah
- Prestasinyo agak biaso-2 sajo alias rato-2
(growth up dari Kabupaten nan dipimpin baliau adolah biaso-2 sajo)
- Pangalaman karajo jo sikola salingka Sumbar sajo
- Visinyopun biaso-2 sajo
Kalau maambiak contoh ka nan alah sudah, grade bara di Indonesia kabuten nan dipimpinnyo dulu, grade itulah nan akan dicapai Sumbar dalam 5 - 10 tahun kamuko, itu kalau baliau taruih jadi Gubernur. Kalau mancaliak kesimpulan diateh, mungkin agak balabihan kalau awak terlalu banyak harok kabaliau ko. Memang dalam 100 hari alun bisa dinilai sadoalahnyo, tapi itu cukuik untuk manantukan jantan jo batino.
Caro nan paliang elok adolah seluruh komponen (Pemerintah, DPR, Alim ULama, KAN,
LSM, dan masyarakat lainnyo), banyak mandorong jo membari masukan ka baliau ko.
Masalahnyo kini awak bapacu jo wakatu dalam mangaja teknologi, sebagai contoh
dikamukokan disiko :
- urang alah sibuk jo globalisasi, awak masih sibuk jo busung lapa
- urang lah menerapkan, mengembangkan dan memanfaatkan Teknologi Informasi, awak
masih sibuk korupsi dalam mambangun TI (nan dibangun itupun baru secuil).
(Kalau develop Website mentawaionline.com sampai Rp. 2M, itu gambaran
nyato dari kurangnyo pemahaman Pemda Sumbar, PT Sumbar, dan masyarakat Sumbar taadok TI)
- Anak sikola daerah lain lah cas cis cus bahaso Inggerih untuk globalisasi, anak sikola awak masuak Lab.
bahaso Inggerih sajo alun pernah, bisanyo cuma grammar ka grammar sajo.
- Anak sikolah lain alah browsing di Internet untuak mangarajokan tugas,
jan-kan anak sikola, guru-guru awak banyak nan alun pernah browsing (kalau mandanga-danga atau mambaco-baco tantang internet tantu pernah).
Pak Gubernur harus membuktikan Mambangkik
Batang Taramdam itu, kalau dulu perantau Minang (urang nan dididik di Sumbar) bisa manggaleh di Tanah Abang,
batoko di pusat-2 pertokoan Jakarta, balapau nasi di Area strategis Jakarta, pendek kato sipak sintuang urang awak mempengaruhi nadi kehidupan Jakarta
Tapi kiniko nan tajadi urang nan dari Sumbar ta-ngango-ngango-ngango-ngango sajo mancaliak Mall, Pusat Grosir, Supermarket, Shoping centre, Fast Food, Chinese Food dll,
katinggalan jauuuaaaaaahhhhh bana dari urang-urang.

- Gindo Pahlawan | 09/12/05 : 15:56
Sato saketek....alah biaso tu mah....wakatu kampanye banyak janji...alah duduak lupo jo janji....tapi tantu paralu diingekkan baliek janjinyo tu.....makonyo mari kito basamo-samo saliang mangingekkan untuak kamajuan kampuang awak juo...bukankah awak pulo nan mamilieh inyo jadi gubernur??..jadi awak pulo nan mangingekkan baliek janjinyo tuh...
Untuak Mrajo...batua pulo tumah...tapi indak saparah tu pulo urang kampuang awak doh...lai banyak pulo guru-guru urang awak tuh nanpandai komputer...lai masih banyak pulo urang awak nan ambo tamui di lua nagari..di singapore, hongkong, newyork dll...jadi indak tangango-ngango doh mancaliek mall tuh..he..he..eh

- Nan Tasasek | 17/12/05 : 02:18
Dalam pandangan saya, dalam 100 hari memimpin, nilai merah yang diraih pasangan ini sudah cukup banyak. Dimulai dari keinginan pengadaan mobil dinas yang akhirnya disetujui 4 buah oleh dprd, sampai kepada munculnya "keinginan" membatasi akses publik (masyarakat) mendapatkan informasi yang berkaitan dengan pemerintahan, kalo saya tidak salah (mungkin bisa diralat oleh dunsanak yang masih ingat) berdasarkan pada sebuah surat tanpa tanggal dari kepala dinas/biro di rumah bagonjong.

Dari sini saja, dalam 100 hari yang telah lewat, terlihat belum adanya keinginan Gawaman-Marlis untuk menciptakan "good government", pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang dapat diawasi oleh masyarakat yang mereka pimpin, pemerintahan yang lebih mengutamakan kepentingan masyarakat.

Dalam 100 hari memimpin, bagi saya, tentunya hal ini yang akan dinilai. Persoalan makan atau tidak, aman atau tidak, atau pembangunan fisik lainnya, tentunya tidak bisa dijadikan sebagai indikator berhasil tidaknya mereka dalam 100 hari. Yang makan tetap makan, yang busung lapar tetap busung lapar. Tidak ada perbedaan ketika Sumbar dipimpin seorang gubernur atau penjabat.

Kewajiban masyarakat, tentunya mengingatkan. Yang jadi persoalan, sepertinya karakter orang Minang sudah bergeser. Keinginan untuk mengkritisi pemegang kekuasaan, sepertinya sudah tidak ada atau sangat jauh berkurang. Masyarakat seperti "bergerak" mencari aman, berusaha mendekatkan diri dengan pemegang kekuasaan, berharap datangnya proyek. Tidak ada yang dapat diharapkan dari lembaga legislatif yang semakin adem tanpa gejolak karena berebut mencari "lahan", berebut bikin kaukus. Pun, tidak ada yang dapat diharapkan dari media penyampai informasi karena mereka lebih konsentrasi menyampaikan peresmian disana-sini atau perjalanan pejabat antah-berantah, persis seperti tvri di era orde baru.

Nah, apakah Sumatra Barat atau Minangkabau mengarah atau sudah menjadi "Negeri Tanpa Harapan"..?

- MN | 26/12/05 : 20:38
Negeri ini telah dijajah dengan seribu janji politisi dan penguasa. Rakyat yang tidak tahu apa2 adalah komoditas politik yang paling empuk. Tak ada 100 hari, malah 100 tahunpun penguasa memerintah dengan dusta, negeri ini tidak akan berubah ke arah yang lebih baik. MARI KITA BAKAR SAJA NEGERI INI DENGAN SEMANGAT UNTUK TERUS MENCACI MAKI PEMERINTAH YANG BOBROK. Pukimak pemerintah, kata sebuah novel yang pernah ditulis di Malasyia. Novel ini dilarang beredar oleh Mahathir Muhamad, saat ia sebagai orang tangguh di Malaysia.

- dalamtanah | 02/01/06 : 11:28
Ketika saya merasa muak membaca berita-berita dari media cetak, yang hanya berisikan acara seremoni dan keberhasilan pejabat pemerintah, website ini menawarkan suatu hal yang berbeda dan berita dari sudut pandang yang berbeda.

Dan polling ini jadi salah satu "pelepas dahaga" masyarakat yang kecewa dengan Gamawan Fauzi dan Marlis Rahman, karena tidak ada media terbitan Sumbar yang berani mengekspos apapun kekurangan mereka. Selamat dan maju terus ranah-minang.com..!!

- Nantuo | 12/01/06 : 17:11
Satahu ambo, untuk mambarikan suatu panilaian, tantu ado standar atau parameter nan tapek nan dipakai. Samakin dakek realisasi ka parameter tu, tantu samakin tinggi nilai nan didapek. Kalau parameternyo indak tapek, atau babagai macamnyo, tantu babagai pulo nilai nan kalua, yo 'ndak? Kini untuak manilai gubernur awak ko, aaa garan parameter nyo nan dipakai?.

Ado caro lain: yaitu mancaliak jarak antaro HARAPAN jo KANYATAAN. Samakin dakek jaraknyo, tantu samakin elok panilaian. Haaa, .... kini agak nampak sangenek bahaso jarak tu laweh juo lai. Masih banyak harapan rakyaik nan alun manjadi kanyataan lah.(itu manuruik ambo ......).

Jadi nan pak Gamawan, ado eloknyo untuak mampalajari bana elok-elok, aaaa bana nan manjadi HARAPAN dari rakyaik Sum-Bar ko. Kudian wujuikkanlah harapan-harapan itu manjadi KANYATAAN.

Nan awak rakyaik badarai ko jan mambironyong juo taruih, tapi agiahlah masuakan ka kumandan pucuak ko. wanyo alah ditinggikan sarantiang, alah didahulukan salangkah. Awak nan maninggi kannyo, awak pulo nan mandahulukannyo. Tapeknyo ..... awak nan mamiliah daulu. Sasuai ambo jo Gindo Pahlawan tu. Kana mangana kan malah awak, yo 'ndak?

- erizal_erizal | 15/01/06 : 17:37
ba ka indak maga cewakan naso inyo pagawai di sumbar sado di suruah kuliah s1 tingga masih dirumah mintuo anak lah banyak biaya iduik ala tinngi kok ado piti kuliah tu rancak anak nan di kuliah kan kalau ali batanguang biaya kuliah jo buku palajaran indak baa caliak juo ekonomi urang tu ja an pulo disamaokan jo riau urang kuliah dijamin biaya sadonyo sampai biaya ongkos nyo tacirik se indak batanguang di riau do pak

- erizal_erizal | 15/01/06 : 17:42
100 hari tanpa progaram nan jaleh nan jaleh program nagari solok

kami dari pasisia khusus nagari kambang minta pengairan untuak irigasi sawah kami nan maharok hujan dari langik sakali satahun panen kok ambo caliak di solok lai ado suduik ala tangak palo banda untuak irigasi

- Caniago | 28/01/06 : 19:54
sato saketek dunsanak, kalau buliah awak ma introspeksi diri dulu lah. Ndak ringan gai mamimpin urang awak nan sabanyak itu do, apo lai urang awak banyak (hampia kasadonyo) nan kareh kapalo. tantu butuh waktu (tahapan) untuk marubah Minang ko ka nan labiah baiak, kok dukun gamawan tu mungkin iyo lai bisa marubah Minang ko dalam sekejap ma. Alun lai dari keterbatasan potensi, finansial dan lainnyo yang kok dibandiang an jo propinsi tetangga iyo agak di bawah awak saketek. Untuak pembangunan jo kemajuan kampuang awak ko indak talatak di tangan Gamawan-Marlis se do, rakyat lainnyo juo paralu mambantu. Alun lai dari segi pendidikannyo,dimano di Ranah Minang ko batagak Perguruan Tinggi yang lumayan tanamo untuak Sumatera, apo lai ado peran aktif UNAND tu untuak pembangunan (sumbangan pemikiran) SUMBAR???? Baiak itu untuak kelangsungan kampuang jo nagari awak ka muko.

- Nantuo | 28/01/06 : 22:09
Caniago, kok iyo indak ringan manjadi pamimpin tu, baa mangko daulu banyak nan bacirabuik bana nak jadi gubernur? Kampanye nyo macam-macam nan sagalo rancak. Jadi ukue malah bayang-bayang nak sapanjang badan....... Batue tu, INTROSPEKSI DIRI sabalun nak sato bacirabuik tu.

Jajak Pendapat #9
Apakah Sjafroeddin Prawiranegara dan Assat Dt. Mudo Termasuk Presiden Indonesia?

Aktif dari Jumaik, 12 Agustus 2005 - 03:46 sampai Sanayan, 24 Oktober 2005 - 19:38
Jumlah pemilih: 142

Ya
77.46% [pemilih: 110]
Tidak
22.54% [pemilih: 32]


- Nan Tasasek | 12/08/05 : 15:04
Respon yang bagus atas pollingnya he.. he.. Setidaknya, ranah-minang.com sudah mau untuk mencoba membuka wacana tentang persoalan sejarah (YANG SENGAJA DILUPAKAN).

Keinginan agar "dihitungnya" 2 putra Minang yang pernah memimpin bangsa ini, bukan berarti hanya untuk pamer atau sok-sokan bahwasanya kita (PERNAH... TAPI, DULUUU...) diperhitungkan di pentas nasional.

Bagi saya, ini semacam usaha, atau pemberitahuan, negara ini bukan didirikan oleh satu suku, bukan didirikan oleh suku yang (sekarang merasa) superioritas. SELURUH DAERAH. Dan itu fakta yang tidak bisa dipungkiri. Lantas, kenapa andil daerah di luar Jawa, SEDIKIT DEMI SEDIKIT DIHILANGKAN DALAM CATATAN SEJARAH NEGERI INI...??

Untuk sosialisasi, kita memang tidak bisa berharap apapun dari eksekutif atau legislatif Sumbar, apalagi dari media terbitan Sumbar. LUPAKAN HAL TERSEBUT..!!

Para pejabat pemerintahan sekarang lagi sibuk menjulurkan lidahnya di depan Gamawan, biar dapat posisi yang bagus ketika Gamawan dilantik. Yang sebelumnya sudah memegang jabatan, sibuk mencari-cari topeng badut yang pas agar sesuai untuk dipakai di depan Gamawan.

Berharap dengan DPRD..?? Wuahhh.... jangan ada pikiran begini dikepala. Ganti harapan untuk DPRD. Berharaplah, suatu ketika diundang untuk rapat ini itu, yang dilaksanakan di hotel paling banyak bintang di daerah ini. Cara penyelewengan dana baru, namun sangat lihai. DPRD Sumbar sekarang santai, santai dalam berkarya dan memikirkan cara baru menguras uang rakat. Sayangnya, sekarang tidak ada satupun wartawan yang memberitakan hal tersebut. Sangat berbeda dengan periode lalu, karena "rimah-rimah" banyak bertebaran.

Media yang ada, terutama media cetak, lebih sibuk memberitakan para pejabat, mulai yang apel, inspeksi, atau sedang menanam ini itu (padahal nanamnya cuma satu) sebuah kegiatan yang tiada guna, karena setelah para bawahan menanam ributan bibit, lantas ditinggalkan... Memangnya ini negeri kolam susu, seperti lagu Koes Plus, yang kalau ditanam bisa hidup sendiri.

Berita ini bukan sesuatu yang menarik, karena tidak ada untungnya bagi mereka menginformasikan dan menyebarkan luaskan hal ini. Lagian, seberapa jauh sih jangkauan media Sumbar..??

Media Sumbar sekarang juga disibukkan dengan mengubek-ubek laci simpanan mencari topeng-topeng badut untuk digunakan ketika bertemu dengan Gamawan. Jangan heran, sebuah media (yang katanya) ternama, yang dulu begitu benci dan tendensiusnya dengan Gamawan, tanpa malu-malu (karena memang tidak punya rasa malu), berbalik arah... bersikap sangat manis, duduk melipat tangan sambil menjulurkan lidah...

Jadi, sosialisasi hal ini hanya bisa dilakukan oleh masyarakat, diluar tiga lingkaran tersebut, karena masyarakat sebenarnya punya media yang jauh lebih bagus dan lebih independen, seperti milis, forum diskusi, dll. Tergantung kita, mau terlibat untuk menghidupkan media independen yang jauh bisa dipercaya, atau kita hanya butuh informasi sampah, karena kita butuh bungkus gorengan pisang.

- MN | 12/08/05 : 18:56
Polling ini bisa menjadi representasi bagaimana pendapat publik menyangkut ke dua orang di atas. Saya baru maoota lamak jo kawan2 tadi. Kami maota tentang pendapat Dr. Mestika Zed--sejarahwan--tentang posisi Syafroeddin Prawinegara (SP) saat PDRI. Mestika mengatakan posisi SP saat sebagai ketua, bukan Presiden RI. Posisi Presiden RI tetap Soekarno walau dia dipenjara. Kalau Assat memang betul sebagai Presiden RI. Katanya, SBY kini sebagai Presiden RI ke-7. Ini hanya sekadar informasi saja.

- bagindobahri | 15/08/05 : 14:51
Informasi saperti iko sangat manatik dan baguna bagi generasi mudo dan masyarakat minangkabau pado umumnyo. Untuak maangkek hala ini kepermukaan, ambo punyo usul ba'a kalau diakokan forum diskusi terbuka berskala nasional dgn topik " Presiden Sebagai Pemimpin dan Pejuang Nasional dalam Perjalanan Sejarah Kepemimpinan Negara RI"

Dengan ini diharapkan, kita dapat menggali lebih dalam lagi sejarah kepemimpinan nasional dan menempatkna definisi presiden sebasgai pemimpin dan pejuang di Repubilk Indonesia.

Demikian komementar ambo.

tks, BAGINDOBAHRI

- eLCapitano | 16/08/05 : 12:23
Kalau ambo berharap adolah kironyo tokoh - tokoh urang awak kini ko nan bisa mancubo mamintak ka pemerintah untuk maluruihkan sejarah tentang urang minang sarato mambarasiahkan namo2 tokoh minang nan lah dirusak di buku - buku sejarah anak sakolah

- majo | 22/08/05 : 09:57
Sosialisasi, pengumpulan data sejarah, forum diskusi dengan menghadirkan narasumber yang bekompeten adalah langkah nan pokok, sabab awak nan lahia diateh tahun 60 an lah ta kontaminasi oleh buku sijarah di sakola sajo, informasi sangat minim di dapek, apo lai dirantau.kalau limbago nan ka ma angkek tantunyo banyak nan namuah. nan diparalukan kini adolah komitmen kito basamo. Wassalam, dari Rang Rantau.

Jajak Pendapat #8
Mana yang pantas jadi Gubernur Sumbar

Aktif dari Akhaik, 10 April 2005 - 12:16 sampai Sanayan, 27 Juni 2005 - 21:05
Jumlah pemilih: 419

Gamawan Fauzi - Marlis Rahman (PBB-PDIP)
36.99% [pemilih: 155]
Irwan Prayitno - Ikasuma Hamid (PKS-PBR)
32.22% [pemilih: 135]
Jeffrie Geovanie - Dasman Lanin (Koalisi Sakato)
12.89% [pemilih: 54]
Leonardy Harmainy - Rusdi Lubis (Golkar)
1.91% [pemilih: 8]
M Kapitra Ampera - Dalimi Abdullah (PPP-PD)
1.43% [pemilih: 6]
Tidak ada
14.56% [pemilih: 61]


- MN | 22/04/05 : 20:28
Pemilihan Kepala Daerah Langsung (PILKADAL) yang akan dimulai bulan Juni di Sumatra Barat intinya bukan hal baru di Ranah Minang ini. Pemilihan langsung oleh rakyat di Minangkabau telah lama berlangsung. Dan ini terjadi di nagari-nagari di Minangkabau. Tak salah orang mengatakan bahwa demokrasi dan sikap egaliter sungguh terasa di nagari-nagari di Minangkabau. Dan, ketika nagari ditukar jadi bentuk pemerintahan desa (masa ORBA) kekuatan demoktaratis dan egaliterrianisme itu lenyap. Kini, Pemerintan terendah itu kembali lagi ke nagari. Tapi roh demokratis dan sikap egaliter itu, sedikit tercarabut, walau kepala nagari dilipih langsung. Karena calon wali nagari sedikit mesti mendapat restu dari pemerintah, dan wali nagari digaji oleh pemerintah.
Kini masyarakat Sumatra Barat akan melaksanakan PILKADAL itu, untuk memilih pemimpinnya, baik tingkat gubernur maupun bupati atau wali kota.
Yang akan saya komentari adalah PILKADAL Gubernur Sumatra Barat. Dalam polling ini ada 5 pasang calon gubernur Sumatra Barat yang akan bertarung di bulan Juni 2005.
Dari 5 pasang Cagub/Wacagub itu, untuk mereka berkuasa 2005-2010, berapa hal perlu kita pikirkan bersama dan sangat urgen kita diskusikan.
Pertama, saya melihat dari nama-nama yang akan dipilih jadi gubernur Sumbar itu, ada 4 nama calon yang sangat aneh dan asing ditelinga masyarakat Sumatra Barat, terutama nama-nama yang akan jadi gubernur itu: IRWAN PRAYITNO, LEONARDI HARMAINY. JEFFRIE GEOVANIE, M KAPITRA AMPERA. Keempat nama-nama ini sangat asing dan lucu bagi masyarakat Minangkabau. Dan nama-nama ini menggambarkan bagaimana sebuah nama begitu jauh dengan kultural masyarakat, adat istiadat masyarakat Minangkabau. Tepatnya, nama-nama itu melepasakan dirinya dengan akar budaya, dan tradisi Minangkabau. Dan "nama" akan menjadi sangat penting dengan kekuatan pemahaman kebudayaan Minangkabau. Jika pemahaman adat dan budaya Minangkabau sudah lepas dari akar budaya, adatnya, maka jika ia jadi pemimpin masyarakat di Sumatra Barat, pertanyaannya, AKAN DIBAWA KEMANA MINANGKABAU KELAK? TENTU AKAN DIBAWA KE WILAYAH YANG TIDAK BERADAT
Kedua, Empat nama yang aneh itu, sepanjang pengamatan saya adalah orang-orang yang besar dan perpikir dengan pola sentralisme. Empat orang itu berkiprah di rantau dan mengenal kampungnya ketika ia mau jadi GUBERNUR. Malah, calon Gubernur bernama "Jeffrie Giovanie" konon tidak bisa berbahasa Minang. Apa ini tidak lucu? Seorang yang jadi pemimpin tidak bisa berbahasa masyarakat yang dipimpinnya.
Sebagian besar mereka menghabiskan waktunya di rantau, dan besar dari kota ke kota di Eropa. Kini dengan modal uang dan materi yang berlimpah, mereka datang ke Sumatra Barat untuk jadi pemimpin, untuk jadi penguasa, untuk jadi Gubernur. Sesuatu yang sangat naif jika masyarakat tidak mengkritisi hal ini.
Kekuatan dan kelemahan Minangkabau (Sumatra Barat) dapat diketahui dan dipahami bukan hanya 1 bulan dan menjelang kampanye seorang calon gubernur. mempelajari Sumatra Barat itu butuh waktu yang lama.
Dari komentas saya ini, pembaca tentu dapat menangkap sosok calon geburnur yang mana yang sungguh-sungguh memahami problem Sumatra Barat, sosok calon Gubernur Sumatra Barat yang mana yang betul-betul mengerti dengan adat dan budayanya, dan berpengalaman di pemerintahan, bersih, jujur, dan santun. Dan TIDAK BERPIKIR SENTALISME.

nasrul azwar

- majo | 25/04/05 : 12:35
Setuju dengan komentar Sanak MN, namun agar tercapainya suatu proses pemilihan yang transparant tentunya harus ada lembaga pemantau indepeden yang dipercaya rakyat dari berbagai aspeknya, seperti kita ketahui berbagai lembaga yang sudah ada tetap saja tersandung masalah, untuk itu saya sarankan pembentukan lemabaga pemantau yang dapat menerima masukan dari semua pihak, apalagi masyarakat Minang tidak hanya terkonsentrasi di Sumbar saja juga ada diberbagai perantauan yang acapkali pulang kampung. Mengenai calon-calon yang diapungkan tsb berasal dari berbagai partai ?? rakyat tinggal pilih ???, tentunya akan di seleksi oleh berbagai pihak termasuk rakyat, tanpa ada tekananan dan permainan yang kotor. Do'a saya PILKADAL ini berjalan sebagaimana mestinya, Amin.
Majo dari Rantau Palembang.

- Imam Hanafi | 26/04/05 : 11:37
ambo juo satuju sekali pandapek Sanak MN, nan penting disiko, baa caronyo urangawak menyingkapi permasalahan nan ado ko (Pilkada), sahinggo paham nan sabana paham diangke kalua, tinggi satingginyo, latar belakang, asal usul urang nan kadipilih masyarakat minang ko harus tahu bana, sahinggo awak indak takicuah/terjebak oleh urang nan banyak bamain/berkepentingan disiko.
sakali awak memutuskan perkara/suara nan salah 5(limo) tahun masyarakat minangkabau nan barado disumatra barat khususnyo dan nan barado diperantauan umumnyo menderita/sansai kasadonyo....
ah itulah paralunyo awak meminta bantuan badan/lembaga/LSM nan independen tapi awak indak juo bisa mengharap terlalu banyak dari siko......
nan penting sakali jan lupokan Tuhan ALLAH jo Nabi Muhammad supayo PILKADA ko berjalan dengan baik dan mendapatkan hasil nan baik pulo...
Imam Hanafi.

- MN | 01/05/05 : 19:50
SEBUAH AWAL, DAN SELANJUTNYA MALAPETAKA...

PILKADAL di Sumbar jelas bukan persoalan perebutan kursi BA-1, dan menjadi orang NO 1 di Sumbar. Di balik perjalanan 5 pasang cagub/wacagub itu, problem yang paling utama adalah, telah terjadi secara terang-terangan pola "pembelian" kantong-kantong publik-publik oleh kandidat. Hampir semua media massa cetak yang terbit di

Sumbar telah berpihak pada masing-masing cagub dan wacagub. Ini artinya, ruang masyarakat telah direbut dengan sangat kasar oleh para kandidat itu. Masyarakat tidak lagi merima informasi yang jernih, akurat, dan jelas. karena yang tampil adalah "yang terbaik" menurut versi media masing-masing.

Itu satu sisi, belum lagi lembaga2 masyarakat. Hampir semua menjagokan masing-masing kandidat. Kemana masyarakat akan mendapatkan informasi yang jernih di Sumbar? jawabannya, tak tahu lagi.

Satu hal yang sangat diingkari oleh para kandidat cagub/wacagub itu adalah, mengicuh rakyat Sumatra Barat. Contohnya, Cagub Leonardy Harmainy yang dicalonkan partai Golkar. Leo adalah wakil rakyat yang dipilih rakyat secara langsung untuk duduk di lembaga DPRD Sumbar (kini dia ketua DPRD Sumbar) pada pemilu legislatif tahun lalu. Logikanya, rakyat Sumbar memilihnya karena dia calon wakil rakyat. Dan dia terpilih sebagai legislatif yang akan mengontrol kerja eksekutif (pemda). Akan tetapi, kini ia mencalonkan dirinya untuk menjadi eksekutif, Gubernur Sumbar, lalu, bagaimana dengan suara rakyat yang mempercayakannya untuk duduk di legislatif dulu itu? Hal inilah yang saya sebut dengan KEMUNAFIKAN DAN PEMBOHONGAN kepada masyarakat yang laing kurang ajar dalam dunia perpolitikan di Indonesia.

Kelakuan yang sama juga terjadi pada WACAGUB IKASUMA HAMID, yang juga anggota DPRD Sumbar, juga sama dengan IRWAN PRAYITNO, yang juga anggota DPR RI. KETIGA ORANG INI TELAH MELAKUKAN PEMBOHONGAN KEPADA MASYARAKAT DENGAN SANGAT SISTEMATIS, dan jelas ini awal dari sebuah malapetaka yang akan kita terima, jika mereka kelak terpilih.



- langkan | 01/05/05 : 22:23
terima kasih mn telah memberikan sebuah kesadaran lain, sesuatu hal yang mungkin luput dari perhatian. perpindahan, atau juga pengicuhan, ini sebenarnya di luar dari logika. di sini terlihat adanya ambisi "tertentu" yang menjadi motivasi pada orang-orang yang pangicuah tadi. setidaknya, rakyat hanya dijadikan komoditas dan legalitas atas apa yang ingin diraih secara pribadi atau kelompok.
bayangkan, mereka telah mengajak rakyat untuk mempercayainya, memilihnya di pemilu legislatif, untuk kemudian dicapmpakkan semua kepercayaan dan pilihan itu, untuk mengejar yang lain. bagaimana menjaga amanah yang diberikan, bila pada situasi seperti ini saja sudah terjadi permainan? bila dibayangkan bahwa mereka dipilih untuk menduduki sebuah posisi di lembaga legislatif, dengan harapan mereka akan menjadi sparing partner eksekutif, namun kemudian malah berkeinginan untuk menduduki posisi eksekutif.
mungkin sudah bukan saatnya lagi bicara seperti ini, tentang amanah, janji-janji, atau harapan, pada mereka. bila pun mereka nantinya tidak terpilih, semoga, maka sebaiknya tak usah kembali lagi ke legislatif. sudah tercoreng kening mereka dengan arang hitam permainan politik. walau hal ini tak mungkin terwujud. karena mereka telah mengicuh dan mengelabui kepercayaan yang diberikan. mereka telah gagal melaksanakan sebuah tugas yang dibebankan, tak dapat dipercaya. atau, jika ini hanya sebuah permainan, maka layaklah bila kita memang telah melangkah ke sebuah alamat yang mengkhawatirkan, tak tau tujuan.
itu saja.

- redison | 03/05/05 : 08:40
Ambo satuju jo pandapek-pandapek dunsanak kasadonyo...! Di maa tujuannyo tantu tatap ciek manjadikan propinsi awak maju, jujur dan damai sarato pandidikannyo indak katinggalan jo daerah lainnyo.
Jadi pamimpin nan cocok tantu nan barani mambuek gebrakan yaitu maapuih Korupsi, Nepotisme dan system pelayanan nan bobrok.
Mudah-mudahan dari lima calon nan ado mungkin ado ciek nan lai agak baiak...! Amin...!!

- ancak | 07/05/05 : 16:30
Apalah arti sebuah nama..................., mungkin bagi Mn, nama-nama itu sangat penting, bila namanya kurang "meminang" dianggap orang asing. Sungguh pemikiran yang sempit sekali. Apakah nama Zainal Bakar, yang sangat tulen minangnya menjanjaikan suatu perubahan yang baik bagi masyarakat minang? Tidak juga khan? Mn tentu lebih tau itu....
Sosok Jefri, tokoh muda Sumatera Barat yang berasal dari Desa limbanang Kabupaten 50 Kota, sekitar 23 kilo meter dari Pusat Kota Payakumbuh. Kalau Mn pernah pergi ke kampung Adri Sandra, atau Alm Brew, di Padang Jopang pasti melewati daerah ini. Jefri adalah kemenakan dari Alm Lukman Harun, yang dikenal sebagai tokoh Muhamaddiyah Sumatera Barat.
Pada pemilihan Presiden lalu, Jefri adalah penyandang dana bagi kampanyenya Amien Rais. Setiap ada kesempatan dia selalu menyempatkan pulangh melihat kampung halamanya. Jadi, walau pun namanya agak asing, tapi menantu mantan Jaksa Agung, Singgih ini tidak pernah lupa akan asal muasalnya. Mungkin bahasa minangnyo ndak pandai, tapi bahaso mudiaknyo lancar................he-he...
Yang pasti, jika Jefri jadi gubernur, minimal seperti gubernurnya rakyat Jambi. membangun Sumbar ndak paraluna maharokkan dana pemerintah lai. Jan Ragu lo Mn lai, kok Inyo jadi guberbur, dana untuk kebudayaan kita labiahkan. Bia masyarakaik makin babudayo, baa kati......

- Nan Tasasek | 08/05/05 : 17:31
Namo pasti punyo mukasuik, paliang indak bagi diri e surang atau urang gaek e. Islam pun mangecekan, namo samacam doa dari urang gaek. Bantuak namo login urang di RM ko sajolah contoh e. Ma adoh nan (namuah) mamakai login jo BARUAK atau BANTUAK_BARUAK :p

Walau namo bukan jaminan dalam laku parangai, saindak-indak e urang nan mamakai namo khas Sumbar (Minang) masih manampakkan kebanggaan (urang gaek e) manjadi urang Minang, katiko harago diri urang awak alah indak adoh dek dilecehan jo diludahan urang jawa katiko PRRI, katiko urang gaek balomba-lomba mangganti namo anak e jo namo-namo jawa, nan inyo (urang gaek e) tatap mamakai namo khas urang awak.

Walau kamanakan Lukman Harun, walau jadi panyandang dana kampanye Amien Rais kapatang, Kalau pamimpin indak mangarati bahaso nagari nan ka dipimpin e, alangkah aneh, rumik dan nan pasti akan manakuikan x) Mungkin akan samo rumik e (atau aneh yo :p ) bantuak kota Pikumbuah, dimano katua DW e adolah nyonya wakil walikota, dek karano nyonya wako indak badomisili di kota botiah tu :O

Sudah tu, apo awak mamiliah pamimpin cuma dek baharok ciek lembaga, ciek kampuang atau ciek nagari sae nan ka ditopang dek calon-calon kadal..??

Kalau model itu caro bapikia, tantu e Leo biso lo mangecek, jan ragu lo kalian anggota PP, kok jampang aden jadi gubernur, pasti dana untuak kalian aden labiahan. Kan alah nampak contoh e dek kalian mah katiko aden jadi katua dewan. Marlis pun bisa mangecek, tanang se kalian panabang kayu lia, kalau aden duduak di rumah bagonjong, kito jarah rimbo di nagari ko sajadi-jadi e, kan aden panabang kayu lia lo mah, gamawan mangecek lo, jan takuik jo amdal lai kontraktor, dalimin sato lo, korupsi se lah taruih kawan-kawan, bekoh aden usahoan untuak di SP3-an :p

Dan, aden pun kan bisa lo mangecek, manga kalian nan pakak badak, cubo aden nan kalian sorongan ka partai-partai cangok kepeang tu, tantu e masalah nan model iko indak ka muncul e doh :p

He.. he..

- Mak Imo | 20/05/05 : 13:36
Namo pasti punyo mukasuik, paliang indak bagi diri e surang atau urang gaek e. Islam pun mangecekan, namo samacam doa dari urang gaek. Bantuak namo login urang di RM ko sajolah contoh e. Ma adoh nan (namuah) mamakai login jo BARUAK atau BANTUAK_BARUAK

Ado juo tumah, yakni Nan Tasasek. Mukauik maagiah namo nanti bukan doa kan?

- Caniago | 21/05/05 : 17:03
Mudah-maudahan pilkada di kampuangkito bajalan sacaro lancar aman dan indakado nan manghalangi agaksaketek jo. Mudah-mudahan dun sanaknan di kampuang indak salah dalam mamiliah calon pemimpin kampuang kito, supayo kampuang kito bisa jaya bantuak dulu. Caliak se pendidikan di ampuang kini ko alah mulai manurun. apo lai kini moral pemuda2 jaman kini ko nan alah manjauah dari norma agamo jo adat istiadat di kampuang kito.
tarimo kasih kadunsanak nan alah mambuek situs ko demi kemajuan ranahminang tacinto

- MN | 24/05/05 : 19:55
INFO MUTAKHIR TENTANG PILKDAL CAGUB DAN WACAGUB
Dari investigasi sederhana saya lakukan dan bicara dengan para politisi, salah seorang calon Gub dan Wakil akan tereliminasi karena terbentur dengan UU. Salah satu Partai yang berada dalam Koalisi Sakato konon terancam menarik dukungannya, karena DPP nya tidak mengizinkan. Hal ini disebabkan kepanegurusan DPDnya telah nonaktif, dan tidak dibenarkan mengambil keputusan. Kini perkara itu jadi santapan politik pada politisi lokal. Dan pertanyaannya, bagaimana jika KPU D Sumbar tidak berinisiatif menyikapi masalah ini, maka rakyat Sumbar akan memilih Cagub dan Wacagub yang ilegal menurut hukum dan undang2?
mengerti sanak apo nan kito makusuik, kalau ndak mangarati, berarti sanak salah seorang tim sukses di RING I BAGI CAGUB DAN WACAGUB NAN BAMASALAH KO?

- stmantiko | 25/05/05 : 19:27
TAGALI GALI RASO NO MAMBACO KOMENTAR...........

Ba kaindak?? Dari sakian komentar nan ado, Buruak se sado no. Ndak ciek alah e nan rancak urang nampak no doh.
Kok iyo co itu CAGUB jo CAWAGUB, untuak aa ado pamiliahan KADAL tu?? Atau sanak (nan jadi pemilih sah di SUMBAR) akan menyatakan GOLPUT??? Atau malah sanak adalah salah satu anggota Tim Sukses??? Sahinggo sebagian nampak e buruak samantaro nan jadi jagoan sanak rancak???

Antah lah, bagi ambo siapopun nan mancalon kan diri, itu hak nyo. Kok awak nak ka sato dipiliah loh, sato menah, cari loh kudo nan ka diracak. Pun kemudian, siapopun nan tapiliah nanti, dek iko lah melalui proses, tarimolah hasil tu. Toh itu pilihan masyarakat melalui SUARA TERBANYAK.
Dak Puehhhh???? Itu lah nasib sanak.

Kecuali, kalau ado bukti nan sahih tentang pelanggaran nan di lakukan dalam bantuak apopun lah namo no. Sanak2 nan tau dan punyo kekuatan, galang lah kekuatan untuak malawan KEBUSUKAN tu. Kalau hanya sekadar ma agiah an komentar miriang, bakaruak arang baiak lah sanak di palanta ko, nan urang tu ka lalu juo.

Maaf, mungkin iko pikiran ambo nan bodoh bin ongok.
Apo dak sabaiak nyo kito manfaatkan palanta ko untuak bakampanye. Tasarah, akan mengartikan kampanye dalam bantuak apo. Tapi alangkah labiah baiak katiko sanak bakampanye tidak mendiskreditkan seseorang atau malah kelompok calon nan ado.

Kenapa awak tidak mengkampanyekan program2 nan dibutuhkan SUMBAR ke depan??? Tidak harus dengan membawa calon dari mana pun.
Tapi nan ka kito kampanyekan adalah bahwa ternyata banyak hal nan dibutuhkan dan sangat dibutuhkan rakyat SUMBAR ka muko.
Mulai dari peningkatan SDM, SDA, Pendidikan, Pembarantasan Korupsi, Clean Government. Dan apo pun lah.

Mudah-mudahan dari ota-ota palanta ko, lai juo nan janiah. Kalaupun di antaro mereka nan mancadi jalon KADAL tu dak mandanga dan dak "akan pernah" mambaco ota ko.
Minimal di awak basamo. Bahwa ternyata ado sisi ideal nan mungkin suatu saat dibutuhkan di nagari SUMBAR tu nanti nyo.

Iko sakadar usul, daripado awak sibuk mancacek urang. Toh katiko awak mancacek, awak harus bakaco pulo. Apokah awak labiah elok, labiah barasiah, labiah pandai dari urang nan awak cacek tu???
Raso-raso no, kecek rang lamo "DI ATEH LANGIK MASIH ADO LANGIK" paralu juo awak inok ranuang kan

Sakitu sanak sado no, mudah-mudahan banyak nan tasingguang jo kecek rang buruak ko
Wassalam

- MN | 13/06/05 : 20:52
Perjalanan para kelima pasang CAGUB/CAWAGUB Sumatra Barat telah dimulai dengan dimulainya kampanye tanggal 10 Juni lalu. Kita "para jurkam" mereka sedang menjajakan janji seperti tukang obat di pasar. Obat apa yang paling menarik saat sekarang, itulah yang disorakkan mereka di tengah pasar ramai. Kita menyaksikannya saja.

Ada janji untuk mambangkik batang tarandam, ada janji untuk melakukan pemberantasan KKN, ada janji untuk membebasakan masyarakat dari kemiskinan. dan lain-lain, pokoknya semua dijanjikan. Jika mereka bisa membawa kita ke surga, pasti itu akan dijanjikan juga.

Semua atribut telah memenuhi sudut kota di mana saja, kota menjadi sangat sumpek, dimana saja bisa ditempelkan gambar kelima orang yang akan mejadi no 1 di Sumbar itu. Tak peduli pagar rumah orang, tak perlu minta izin, tak peduli apakah itu pintu wc, pintu gudang, dimana saja dan apa saja menjadi tempelen gambar mereka ini. Malah ada juga ditempelkan di trotoar.

MEREKA MENIPU SECARA BERSAMA-SAMA

- langkan | 14/06/05 : 22:49
Sebagai sebuah mesin politik, patut disadari juga bahwa PILKADAL merupakan sebuah alat untuk membawa sepasang pemimpi(n) nantinya duduk di rumah bagonjong itu. Bukan masalah pencitraan selama masa kampanye saja, namun juga ini masalah pilihan yang sadar. Mau tak mau, mesin ini, tampaknya, tetap akan membawa salah satu pasangan itu. Pemilih sudah dan sedang menimbang mana yang akan dicoblosnya.
Karenanya, masa kampanye ini digunakan sepenuh-penuhnya untuk menarik dan menggoda pilihan para pemilih. Semoga saja nantinya akan terpilih yang betul-betul terbaik dari yang ada. Karena toh pada akhirnya mesin ini dipercayai satu-satunya cara untuk itu. Sementara itu berbagai pandangan tentu saja akan tetap hadir, semoga saja akan timbul saling memahami dan menghormati pilihan yang ada. Bagi yang tidak (akan) memilih, tetap saja ini sebuah momen yang menarik, sebuah episod dari episod. Tapi tampaknya jalan tetap saja buram, mesin yang sama pernah mendatangi kita beberapa kali. toh, tak pernah terlihat perubahan dan perkembangan yang berarti, terutama yang menyangkut perbaikan sosial, ekonomi, budaya. tapi, tentu sikap optimis patut dibentangkan, penuh harap dan cemas. tak berapa lama setelah para pemimpi(n) itu duduk di singgasana, toh, mereka tak mengenali arti sebuah kertas yang pernah dicoblos oleh seorang tua yang pernah diborong ikan asinnya, seorang pemuda yang pernah bersalaman di jalanan, seorang anak yang menyapanya, atau siapa saja. semua berlalu bersama kertas suara yang kemudian dilelang dan dijual oleh KPUD ke seorang pedagang kiloan kertas.
apakah yang memasang poster, selebaran, bookleat itu juga nantinya membantu membersihkan sisa-sisa kampanye? toh tidak juga, itu kerjaan para penyapu jalanan yang menjadi pahlawan adipura kata orang namun bergaji belanja sebuah makan siang seseorang entah dimana. kita harus tetap awas, waspada, dan cemas, selain juga penuh harap atas berbagai janji dan buih para pedagang politik itu. itu saja dulu, selamat menikmati kesumpekan itu, MN.

- mrajo | 18/06/05 : 13:42
Ha...ha..ha...
Komentarnya lucu..lucu...dan indak jaleh arahnyo, sarupo badia, asalah manembak sajo
1. Masalah namo.
Namo itu pambarian urang tuo, bukan dicari atau dibuek oleh yang bersangkutan. Namo urang Minang dulu, kini, nan akan datang, dikampuang, dirantau babeda-beda, sadoalahnyo rancak kato urang tuonyo.

2. Karajo
Apo juo karajonyo, pengusaha, anggota DPR/MPR, tukang baruak, sopir, wartawan atau nan lain buliah jadi Gubernur, asa cocok jo urang Sumbar.

3. Bahasa Minang
Banyak orang Minang dirantau kurang fasih berbahasa Minang, tapi mengerti bahasa Minang, fasih dan lancar bahasa Indonesia dan bahsa asing, ini masalah kecil jadi jangan dibesar-besarkan. Kalau indak bisa bahasa Indonesia dan galentong pentong bahasa Inggeris, mau jadi Gubernur itu baru masalah.

4.Gubernur Sumbar
Gubernur harus bisa memajukan masyarakat dan anak cucu untuk dunia & akhirat. Sekarang ini urang awak sudah tertinggal jauh dibandingkan etnik lain di Indonesia, apalagi dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain lain didunia, ini dikarenakan pemimpin-pemimpin kita beberapa dasawarsa terakhir tidak punya visi yang mendunia, tahunya hanya Sumbar atau paling tinggi barometernya Jakarta yang juga tertinggal dibandingkan dengan kota lainnya didunia. Sebaiknya Gubernur Sumbar punya pengalaman dan wawasan di luar Sumbar kalau perlu diluar Indonesia, sehingga pandangan dan visinya jauh kedepan.

- MN | 18/06/05 : 20:28
Kaampek poin nan angku tulih tu, indak ciek juo masuk ka limo pasang cagub/cawagub Sumatra Barat.

- mahdhivan | 20/06/05 : 16:01
Ambo satuju jo sanak mrajo. namo tu ndak jd parameter inyo bervisi minang atau ndak. mungkin pemberian namo tu ado alasan dek gaeknyo. takah irwan prayitno, gaeknyo maagiah namo takah tu dek karano maso-maso suram dulu pas PRRI.
Sudah tu jan lah awak memvonis cagub-cawagub tu ndak ado perannyo di kampuang kalau alun jaleh sia sabananyo kalimo pasangan tu, samantaro awak baru mandapek informasi satangah-satangah. takah irwan prayitno, perannyo di sumbar sabananyo gadang terutama di bidang pendidikan di sumatera barat. cuman dek karano inyo ndak terekspose dek media, urang banyak manyangko inyo gadang di lua.
Maaf kalau ambo maagiah contoh pak irwan se, soalnyo pak irwan nan labiah banyak ambo tahu. kalau ado nan labiah tahu tentang kelima pasangan tu, cubolah agiah tahu ka kami-kami ko.
Ambo maliek ado informasi-informasi yang alun berimbang diberitakan dek media padahal itu perlu untuk pencerdasan masyarakat. mungkin beberapa media tu alat sang kandidat tu kali yo.
Ambo pernah mambaco bahwa ternyata daerah solok termasuk kabupaten tertinggal di Indonesia, alun lai kasus pns di kabupaten tu dll. Samantaro berita yang beredar, bupati solok nan jadi cagub kini dinilai berhasil dan bersih. Data-datanyo langsuang dari bawasda Solok lho. Sudah tu, beberapa calon ndak barani manunjuak-an inyo dari partai ma, justru memberikan kesan inyo dari partai lain untuak menarik simpati masyarakat yang miliah partai tu dulunyo. Cubo survey bara nan banyak masyarakat tahu bahwa Gamawan tu dari PDI-P? Survey pulo bahwa Jeffrie tu dari koalisi tuah sakato (16 partai ketek) termasuk PDS dan PAN bukan termasuk dalam koalisi tu. Iko nan ambo mukasuik-an infonyo ndak jujur, terkesan membohongi masyarakat.
Ado pulo nan manyebarkan fitnah: anak banyak bisa korupsi lah, cagub dari jawa lah, istri nan banyak lah, dll. Apokah iko permainan yang fair?
Pasal jabatannyo kini apo, itu ndak masalah. Asal inyo alah mundur dari jabatannyo tu pas pencalonan dirinyo? atau apo masih ado nan alun mundur dari jabatannyo itu yo sampai kini? Kalau baitu, yo ndak rancak calon tu doh.
Ambo punyo usul untuak mananyoan pertanyaan-pertanyaan ko ka cagub-cagub awak: bara kali inyo khatam al-quran dalam sabulan? bara kali inyo tahajud dalam saminggu?bara kali inyo sholat jamaah di mesjid dalam sahari?bisa ndak inyo jadi imam?baa prilaku dari istri dan anak-anaknyo, istri dan anak gadihnyo bajilbab ndak? Ado tato ndak di badannyo? Parokok ndak?
Ado sanak nan bisa mananyoan tu ndak? atau ado sarana untuak mananyoan tu ndak?
Cukuiklah, hanyo Allah yang Tahu sia nan jujur, sia nan barasiah, sia nan terbukti berprestasi. Dan Allah pulo nan ka manantuan sia nan jadi Gubernur nanti. Tantu awak badoa, Gubernur nanti urang nan terbaik lah kironyo. Amiin.
Maaf kalau ado kato-kato nan salah dari Ambo.Selamat memilih!

- MN | 24/06/05 : 21:11
Militansi dan loyalitas kader PKS memang patuik diakui. Mereka kader partai yang sangat loyal. Tapi, saya juga mengamati bagaimana begitu tidak loyalnya para kader itu jika mereka telah duduk di eksekutif maupun legislatif. Contoh paling konkret adalah saat RAPBD Provinsi Sumbar 2005 dirancang dengan memasukkan pos anggaran belanja mobil dinas DPRD Sumbar oleh eksekutif, mereka (terutama anggota DPRD Sumbar dari PKS) menolak keras, dan bersuara lantang.

Namun apa mau dikata, saat eksekutif merevisi RAPBD itu kembali, dan tetap memasukkan belanja mobil dinas tadi, anggota DPRD Sumbar dari PKS, menerimanya. Ternyata, anggaran yang telah direvisi eksekutif itu budgetnya lebih besar daripada yang pertama diajukan. Alasan PKS menerima RAPBD 2005 itu, karena posisi PKS sangat dilematis. Munafik. Untuk lebih jelasnya, MAHDHIVAN bisa membuka kembali arsip berita di RM ini (di situs ini). Karena berita kemunafikan itu pernah dilansir di RM. Itu satu contoh bagaimana loyalitas kader PKS hanya berjalan pada tingkat kader2 yang belum memegang jabatan.


- MN | 24/06/05 : 21:21
Satu lagi saya lupa bagaimana terjadi kebohongan publik yang dilakukan oleh salah satu Cagub yang berkompetisi untuk tanggal 27 Juni nanti.

Jika Anda jeli menyimak tayangan TVRI Sumatra Barat semasa kampanye lalu, ada satu gambar visual yang ditayangkan sebagai iklan kampanye cagub.

Begini visual kebohongan itu dilakukan. Salah seorang cagub dilantik jadi ninik mamak di Kuranji, dilewakan digalanggang rami gala tu. Dalam tayangan itu terlihat Susilo Bambang Yudhoyono (RI-1) mengangguk-angguk dengan latar belakang pemberian gelar datuak itu. Gambar itu direkayasa dengan sistem editing mencampuradukkan gambar. Jika kita tidak tahu, maka gambar pelantikan gelar datuak itu seperti dihadiri SBY di Kuranji. Kenyataannya, SBY tidak hadir. Jelas gambar itu dihadirkan dengan teknologi editing untuk kepentingan sesaat dengan menghalalkan segala cara. Meyakinkan, memang. Dan ini pembohongan yang direncanakan dengan sangat matang untuk membohongi pemirsa TVRI Sumbar yang pemirsa memang banyak dikampung-kampung, nagari2 yang tidak dapat merelay televisi lainnya.
Apakah kita masih yakin dengan mereka ini dengan mengatasnamakan agama Islam dan Allah SWT. entahlah.

- MN | 01/07/05 : 20:25
BAHAYA LATEN KAUM MILITAN

Pilkadal di Sumatera Barat telah berlangsung dengan sukses dan aman. Hasilnya pun telah tampak, walau belum resmi disahkan KPUD. Untuk Tingkat Kota/Kab pemain lama masih mendominasi perolehan dan pengumpulan suara terbanyak. Misal, cawako Jufri untuk Kota Bukittinggi, Cabub Aristo Munandar untuk Agam, dan Muslim Kasim untuk Kab. Padangpariaman. Sementara, di Kab Limopuluah Koto, Cabup Amril Darwis mengungguli Alis, yang dulu Bupati di negeri itu, sedangkan yang mengalahkannya wakil bupati. Gejala apakah ini? Ada apa dengan semua ini.

Kini, sebagian orang merasa sakit hati karena jagoannya yang diyakini menang, ternyata amblas perolehan suaranya. Ada langkah untuk mengulang kembali Pilkadal itu, dengan alasan banyak rakyat yang tidak memilih karena tidak terdaftar di TPS, mereka menyalahkan KPUD Sumbar. Mereka demo di DPRD dan KPUD Sumbar, lalu siapa dibelakang mereka ini?

Inilah bahaya laten yang sesungguhnya telah tampak. Ada yang tidak rela menerima kekalahannya. Terlalu pandir memang. Yang pasti, dalam UU No 32 Tahun 2004 tidak ada ditunjukkan dengan pasti adanya Pilkadal ulang, yang ada penghitungan ulang.


Jajak Pendapat #7
Apa nama yang cocok untuk portal ini sekarang

Aktif dari Jumaik, 06 Agustus 2004 - 04:41 sampai Salasa, 17 Agustus 2004 - 18:28
Jumlah pemilih: 38

Tetap Ranah-Minang.Info
21.05% [pemilih: 8]
Ranah Minang
55.26% [pemilih: 21]
Sumbar Online
7.89% [pemilih: 3]
Sumbar News
2.63% [pemilih: 1]
Lainnya (silahkan tulis usulannya)
13.16% [pemilih: 5]


- MN | 06/08/04 : 19:59
SAYA MENGUSULKAN NAMA WEB INI: minangkabau.com

- Bunga Tulip | 07/08/04 : 17:11
Kalau dari saya ada dua pilihan:
1- "CARANO RANAH MINANG"
alasannyo, carano bertutup dengan kain sulaman, untuk menyajika sirih dan pinang, sirih dan pinang penuh artinya bagi orang minang.

2- "GURINDAM RANAH MINANG"
alasannya, gurindam lebih mengutamakan apresiasi dan budaya yang baku, peristiwa sejarah minang dan lainnya.
Mungkin dapat sebagai cerminan untuk generasi masa depan minang dan mencampur dengan perkembangan kemajuan minang sekarang.

Keduanya juga sebagai misi dari Website ini.