Kamih, 03 Januari 2008 - 09:59 Al-Hamis, 24 Dhul Hijja 1428 H
Ranah-Minang.Com - Selalu ada hikmah di balik bencana. Seperti yang dirasakan Masrizal (28), warga Nagari Bukik Batubuah, Canduang, Bukiktinggi. Gempa bumi yang melanda Sumbar September 2006 lalu, memang sempat memporak-porandakan sumber penghidupannya. Tempat penggilingan atau kilang tebu tradisional miliknya turut rusak. Ia pun tak lagi bisa berjualan gula merah seperti biasanya. Namun beberapa bulan kemudian, kilang tebu milik dia sudah pulih kembali, bahkan dengan mesin giling yang menggantikan tenaga manual manusia dan kerbau.
Adalah DR Aziz Darwis, yang berjasa "menjual" potensi Nagari Bukik Batubuah kepada Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah (LAZIS) Dewan Da’wah Indonesia, Jakarta. Kampung halamannya itu, menurut pensiunan dosen IPB yang kini mukim di Bogor ini, perlu untuk dibantu tidak saja karena telah menjadi korban gempa bumi. Tapi juga lantaran merupakan daerah penghasil gula merah tradisional yang legendaris di lereng Gunung Marapi, Bukiktinggi. Di sana ada lebih dari 400 kilang tebu rakyat.
[Selengkapnya...]
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Al-Baqarah:188)
Jajak Pendapat
Perlukah Ustano Basa, replika Ustano Si Linduang Bulan itu dibangun kembali