Ranah-Minang.Com
| Depan | Forum Diskusi | Arsip Berita | Kirim Berita | Kirim Tulisan | Info Iklan | Kotak Pos | Lapau Online | Search | Sitemap | Login | Webmail |
Rubrik Berita
Kapalo Kaba Salingka Sumbar Wisata - Budaya Padang Piaman Liputan Khusus DPRD Sumbar Payokumbuah Bukiktinggi - Agam Pasisia Solok Pendidikan - Olahraga Sawahlunto Solok Selatan Mentawai
Lapau Online
Wisran Hadi - Orang-Orang Blanti
Wisran Hadi - Orang-Orang Blanti
Harga: Rp 30.000,-

Revolusi Industri Penggilingan Tebu Tradisional Bukiktinggi: Mangilang Tabu Tanpa Kabau

Kamih, 03 Januari 2008 - 09:59
Al-Hamis, 24 Dhul Hijja 1428 H

Ranah-Minang.Com - Selalu ada hikmah di balik bencana. Seperti yang dirasakan Masrizal (28), warga Nagari Bukik Batubuah, Canduang, Bukiktinggi. Gempa bumi yang melanda Sumbar September 2006 lalu, memang sempat memporak-porandakan sumber penghidupannya. Tempat penggilingan atau kilang tebu tradisional miliknya turut rusak. Ia pun tak lagi bisa berjualan gula merah seperti biasanya. Namun beberapa bulan kemudian, kilang tebu milik dia sudah pulih kembali, bahkan dengan mesin giling yang menggantikan tenaga manual manusia dan kerbau.

Adalah DR Aziz Darwis, yang berjasa "menjual" potensi Nagari Bukik Batubuah kepada Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah (LAZIS) Dewan Da’wah Indonesia, Jakarta. Kampung halamannya itu, menurut pensiunan dosen IPB yang kini mukim di Bogor ini, perlu untuk dibantu tidak saja karena telah menjadi korban gempa bumi. Tapi juga lantaran merupakan daerah penghasil gula merah tradisional yang legendaris di lereng Gunung Marapi, Bukiktinggi. Di sana ada lebih dari 400 kilang tebu rakyat.

lindo
Direktur LAZIS Dewan Da’wah, Mohamad Siddik MA, lantas mengajukan proposal ke Muslime Helfen Germany (MHG), sebuah LSM kemanusiaan yang berbasis di Jerman. Proposal disetujui. Bahkan kemudian petinggi MHG, DR Ahmad von Denver, datang langsung ke lokasi bersama Siddik untuk melihat hasil eksekusi bantuan, September 2007 lalu.

Selain membangun tempat ibadah, di lokasi itu MHG dan LAZIS juga menginisiasi pembentukan koperasi penggiling tebu tradisional pada Mei 2007. Namanya Darul Marhamah, dipimpin oleh Ny Asneti yang kebetulan juga staf kesekretariatan Pemda setempat.

Lewat Darul Marhamah, dikucurkanlah bantuan modal usaha senilai Rp 20 juta per paket. Dana ini untuk membangun kilang dengan mesin giling tebu yang menggantikan tenaga manusia dan kerbau. Pinjaman dikembalikan secara berangsur sebesar Rp 1 juta per bulan, setelah produksi berjalan.

Dampaknya luar biasa. Selain memulihkan sumber mata pencarian warga, alih teknologi mesin giling juga meningkatkan secara sangat signifikan efisiensi produksi.

"Dulu, untuk menghasilkan 10 kg gula merah, kami memerlukan waktu 6 hari kerja. Dimulai dengan meremukkan batang tebu oleh tenaga manusia, lalu menggilingnya dengan tenaga kerbau, kemudian memasaknya dalam tungku. Sekarang, untuk menghasilkan gula merah sebanyak itu, kami cukup bekerja 2 jam saja. Sebab ambo mangilang tebu tanpa kabau lagi," tutur Masrizal, ketua salah satu kelompok anggota koperasi.

Waktu sangat luang yang kini dimiliki para pekerja kilang, digunakan untuk menambah penghasilan. Misalnya mencari pakan kerbau, lalu mengolah kotoran kerbau menjadi pupuk kandang. Atau mencari kayu bakar untuk bahan bakar tungku. Hasilnya lumayan.

"Dulu ambo sepekan dapat gaji Rp 30 ribu. Sekarang bisa sampai Rp 100 ribu," aku Ny Daniar, satu dari empat pekerja kilang yang diketuai Syafri.

Para petani lainpun mulai percaya pada "kesaktian" alih teknologi. Sampai saat ini, sudah ada 4 kilang bermesin yang dibiayai Darul Marhamah. Selain yang diketuai Masrizal dan Syafri, juga ada 2 kilang lagi yang dikoordinir Romy Chandra dan Indra di Nagari yang sama. Masing-masing kilang memiliki anggota kelompok sebanyak 20-30 petani.



Pekerja kilang tengah menggiling tebu dengan mesin. Hasilnya disalurkan lewat pipa ke tungku pemasak

Menurut Masrizal, dalam sebulan kilangnya mampu memproduksi minimal 1 ton gula merah. Meskipun bahan baku murah dan melimpah, namun hasil penjualan gula masih jauh dari optimal. Pasalnya, penjualan mereka masih tergantung pada tengkulak.

"Kami harus mengangkut sendiri gula kepada tengkulak di pasar, dengan harga antara Rp 5000 sampai Rp 6000 per kilo. Gula hitam lima ribu, coklat limaribu limaratus, dan gula merah enam ribu per kilo," jelas Syafri.

Sebenarnya, kata Masrizal, kapasitas produksi kilang masih bisa digenjot lagi. Caranya, mengganti tungku tradisional dengan tungku mesin.

"Untuk mengoptimalkan produksi, satu kilang idealnya memiliki 4 tungku mesin," katanya. Satu tungku, menurut Asneti, harganya sekitar Rp 5 juta.

Namun, LAZIS Dewan Da’wah masih ingin melihat dulu perbaikan kinerja kilang dan Darul Marhamah.

"Problem produksi tradisional antara lain adalah konsistensi mutu dan kapasitas," kata Ade Salamun, sekretaris eksekutif LAZIS.

Ade juga berharap, Darul Marhamah jangan sekadar menjadi lembaga simpan-pinjam.

"Ia harus juga menjadi penampung hasil produksi anggotanya dengan harga layak, sehingga posisi tawar petani meningkat di hadapan tengkulak atau agen," kata Ade. (Nurbowo/Ranah-Minang.Com)

Revolusi Industri Penggilingan Tebu Tradisional Bukiktinggi: Mangilang Tabu Tanpa Kabau
Informasi pemasangan webtorial/iklan:
Hubungi kami melalui Kotak Pos
atau email melalui
Liputan Khusus Lainnya







- Darah PRRI: Sebuah Refleksi - 15/02/06 : 20:42

















- Sumbar Menuju Daerah Investasi - 03/10/04 : 21:26



- Potensi Besar Laut Sumbar - 07/09/04 : 00:45










Mutiara Hikmah
Jajak Pendapat
Songket Minangkabau
Sponsor
Sponsor
Radio Ranah-Minang.Com
Design oleh Djamboe WebDesign
Hosting pada Djamboe Hosting