|
|
Artikel Nan Tabaru: Palanta
 |
Tukang tulih Zilfannanda, ST Pakan, 23 Februari 2008 / As-Sabt, 15 Safar 1429 H
Kehidupan di ranah Minang adalah kehiduan yang penuh dengan kata mufakat untuk menyelesaikan suatu masalah. Dahulu banyak sekali cerita indah yang kita dengar tentang kehidupan sosial orangtua kita di ranah Minang ini. Kehidupan masyarakatnya yang suka gotong-royong, nilai dasar agamanya yang begitu kuat dan keindahan alamnya yang begitu mempesona. Suku Minang sangat berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia, karena garis keturunannya yang lebih dekat kepada garis Ibu. Sebenarnya kekuatan mendasar dari ranah Minang ini adalah masyarakatnya yang religi dan kepercayaan diri terhadap diri sendiri yang tinggi sekali, walaupun kepercayaan diri yang tinggi itu bisa jadi bumerang bagi kegagalan diri sendiri.
|
 |
Tukang tulih Adlan Sanur Malin Mudo, M.Ag Sanayan, 28 Januari 2008 / Al-Itsnayna, 19 Muharram 1429 H
Pada zaman sekarang, banyak lembaga-lembaga yang ada seperti LSM, Ormas, Perguruan Tinggi termasuk pemerintah membuat rencana kerja, program atau kegiatan untuk masyarakat sendiri saja tanpa meminta pendapat dari masyarakat. Akibat rencana kerja program atau kegiatan itu tidak didukung oleh masyarakat desa atau nagari tempat dilakukannya program kerja, program atau kegiatan itu berjalan seperti air yang mengalir di sungai tanpa ada menimbulkan kesan terhadap batu yang dilaluinya. Tanpa pernah mengajak partisipasi dan peran serta dari masyarakat akan maksud dan tujuan kegiatan tersebut. Ternyata asas musyawarah mufakat ini tidak hanya hilang atau tidak muncul dari masyarakat namun bagi masyarakat adatpun sudah mulai terkikis. Kegiatan bersama yang disebut dengan need assessment (membuat kegiatan dengan melibatkan masyarakat dan berdasarkan tingkat kebutuhan masyarakat) hanyalah semboyan belaka saja.
|
 |
Tukang tulih Nasrul Azwar Pakan, 12 Januari 2008 / As-Sabt, 3 Muharram 1429 H
Teman saya bercerita tentang kurenah salah seorang anggota DPRD yang berasal dari sebuah kabupaten di Sumatra Barat. Nama anggota wakil rakyat ini, sebut saja DR (HC) Sidi Ambin. Dia diuntungkan oleh sistem pemilu. Entah bagaimana logika hitungannya, Sidi Ambin tiba-tiba saja sudah duduk di kursi empuk DPRD dari Partai ESQ, sebut saja dulu demikian. Gelar yang melekat di namanya itu, yang tak boleh lupa menuliskannya, tak jelas riwayat dan sejarah peraihannya. Tiba-tiba saja ada.
|
 |
Tukang tulih Ervan Nanggalo, ST Raba'a, 12 Desember 2007 / Al-Arba'a, 2 Dhul Hijja 1428 H
|
 |
Tukang tulih Sudarmoko Raba'a, 28 November 2007 / Al-Arba'a, 18 Dhul Qada 1428 H
Sejarah percetakan buku di Indonesia dimulai pada tahun 1619 ketika pemerintah kolonial Belanda menjadikan Batavia sebagai pusat kekuasaannya di Hindia Belanda. Namun perkembangan percetakan di daerah ini dimulai dengan kedatangan misionaris Inggris, Medhurst, ke Batavia pada tahun 1828. Ketika misionaris Amerika dan Inggris pindah ke Cina pada tahun 1840-an, percetakan itu ditinggalkan di Singapura dan dimanfaatkan oleh Reverend Keasberry dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi (Putten, 1997: 717; Proudfoot, 1993: 13-14). Penerbitan mereka berdua menghasilkan beberapa buku dengan pewarnaan dan edisi yang mewah pada waktu itu.
|
Arsip: Palanta  | Sipatuang Sirah Tukang tulih Suryadi dimasuakan : Sanayan, 18 September 2006 / Al-Itsnayna, 24 Sha'ban 1427 H |
 | Si Malanca Tukang tulih Wisran Hadi dimasuakan : Akhaik, 13 Agustus 2006 / Al-Ahad, 18 Rajab 1427 H |
 | Membangun Ranah Minang Tukang tulih Zorion Anas dimasuakan : Sanayan, 10 Juli 2006 / Al-Itsnayna, 13 Jumada Al-Thani 1427 H |
 | Coffee Morning Tukang tulih Wisran Hadi dimasuakan : Jumaik, 06 Januari 2006 / Al-Jum'a, 6 Dhul Hijja 1426 H |
 | Kerinduan dan Kuasa Tukang tulih Sudarmoko dimasuakan : Salasa, 02 November 2004 / Ats-Tsalatsa, 19 Ramadan 1425 H |
 | Gado-Gado Minang Tukang tulih Bunga Tulip dimasuakan : Pakan, 07 Agustus 2004 / As-Sabt, 20 Jumada Al-Thani 1425 H |
 | Anak Mudo Kini Tukang tulih Dewi dimasuakan : Jumaik, 06 Agustus 2004 / Al-Jum'a, 19 Jumada Al-Thani 1425 H |
|
|