|
|
Artikel Nan Tabaru: Bahasa Minang
 |
Tukang tulih Nur Intan Indahsari Kamih, 22 Februari 2007 / Al-Hamis, 4 Safar 1428 H
Bangsa ini memiliki kebudayaan yang beragam. Termasuk bahasa daerah didalamnya. Puluhan hingga ratusan bahasa daerah lahir di Tanah Air kita, Indonesia. Keanekaragaman ini sesungguhnya mampu memperkaya kebudayaan Indonesia. Namun, pada kenyataannnya kelestarian bahasa daerah mulai terancam keberadaannya. Apakah hal ini juga terjadi pada kelestarian bahasa Minangkabau?
|
 |
Tukang tulih Haslizen Hoesin Akhaik, 24 Desember 2006 / Al-Ahad, 3 Dhul Hijja 1427 H
"Bahasa Daerah mesti dilestarikan..... Bahasa daerah merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan nasional. Kita memiliki 731 bahasa daerah. Sebanyak 726 diantaranya masih digunakan dan lima lainnya telah mati." (Republika, 10 Desember 2006). Apakah bahasa Minang didaftarkan pada urutan ke enam atau ke sepuluh atau..... untuk mati? Jawaban secara menyeluruh terletak pada Kepala Daerah (Provinsi, Kabupaten dan Kota), Dinas Pendidikan (Provinsi, Kabupaten dan Kota), Ninik-mamak, Cadiak-pandai dan Alim-ulama di Minangkabau.
|
 |
Tukang tulih Haslizen Hoesin Jumaik, 13 Oktober 2006 / Al-Jum'a, 20 Ramadan 1427 H
|
 |
Tukang tulih Bahren Akhaik, 08 Oktober 2006 / Al-Ahad, 15 Ramadan 1427 H
Pemimpin dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki arti orang yang memimpin (KBBI:1995:769). Masyarakat Minangkabau atau yang biasa disebut sebagai orang Minang dalam kehidupannya sehari-hari juga memiliki pemimpin yang mereka sebut sebagai panghulu.
|
 |
Tukang tulih Suryadi Akhaik, 06 Agustus 2006 / Al-Ahad, 11 Rajab 1427 H
Seperti halnya bahasa-bahasa daerah lainnya di Indonesia, Bahasa Minangkabau terus berubah. Pengaruh Bahasa Indonesia sudah menyebar jauh ke pelosok daerah di Sumatra Barat, dibawa oleh media audio visual seperti televisi dan radio, 'membengkokkan' lidah generasi muda Minangkabau, yang mulai terbata-bata berkomunikasi dalam bahasa ibunya sendiri. Suka atau tidak suka, Bahasa Indonesia, dan mungkin juga bahasa asing seperti Bahasa Inggris, makin mempengaruhi masyarakat penutur Bahasa Minangkabau. Demikianlah umpamanya, di banyak desa aktivitas budaya tempat menuturkan Bahasa Minangkabau ragam adat makin jarang dipraktekkan. Kalau dulu acara pasambahan menjemput mempelai pria (manjapuik marapulai), misalnya, bisa memakan waktu berjam-jam, dimana kemampuan bersilat lidah benar-benar dipraktekkan, yang penuh dengan mamangan, pepatah, gurindam, pantun, dan idiom-idiom yang penuh metafora, maka sekarang masyarakat cenderung main praktis saja: niat dan maksud disampaikan dalam pembicaraan pendek dalam kalimat-kalimat denotatif, lalu makan, kemudian pulang.
|
|
|