|
|
Artikel Nan Tabaru: PDRI
 |
Tukang tulih Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie Sanayan, 06 Maret 2006 / Al-Itsnayna, 5 Safar 1427 H
Tiga puluh tujuh tahun yang lalu, tepatnya tanggal 15 Januari 1969, mantan Gubernur Militer Sumatra Barat dan salah seorang tokoh penting PDRI hadir di Situjuh Batur. Dia adalah Mr. Sutan Mohammad Rasjid yang datang bersama putranya Iwan Rasjid. Dari Padang, mantan Gubernur Militer Sumatra Barat itu diantar oleh seorang "sumando" Ahmad Nurdin, SH. yang waktu itu menjabat Wali Kota Sawahlunto. Rombongan lainnya, kami bersama A.I. Dt. Bandaro Panjang yang waktu itu Kepala Kantor Veteran Sumatera Barat dan kebetulan juga putra Situjuh Batur.
|
 |
Tukang tulih Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie Kamih, 05 Januari 2006 / Al-Hamis, 5 Dhul Hijja 1426 H
Pada tanggal 12 Agustus 1902, lahirlah seorang putra bangsa di Bukittinggi, Minangkabau. Putra itu adalah Dr. H. Mohammad Hatta yang kita kenal sebagai Proklamator Kemerdekaan RI, Wakil Presiden pertama, Perdana Menteri RI dan Perdana Menteri RIS 1049/1950. Barangkali tidak perlu dijelaskan lagi bahwa tokoh Proklamator Kemerdekaan RI ini seorang tokoh teladan, jujur, lurus, disiplin, sederhana, taat beragama dan tokoh politik dan ekonomi yang merakyat. Dalam rangka mengenang jasa-jasanya untuk negara dan bangsa, penulis ingin mengemukakan secuil episode perjuangan kepemimpinan Bung Hatta dan hubungannya dengan PDRI (Pemerintah Darurat Republik Indonesia) yang berpusat di Sumatera 1948/1949. Sungguh amat langka kita baca hubungan Hatta dengan PDRI atau betapa dan bagaimana peranan Bung Hatta dalam PDRI.
|
 |
Tukang tulih Sjafruddin Prawiranegara Kamih, 05 Januari 2006 / Al-Hamis, 5 Dhul Hijja 1426 H
Tatkala pada siang hari tanggal 19 Desember 1948 tersiar berita di Bukittinggi bahwa pada hari itu Belanda telah menduduki Yogya dan menangkap Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta dan para menteri yang ada di Yogya, oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran yang ada di Bukittinggi, berita itu diterima dengan keheran-heranan dan perasaan hampir-hampir tidak percaya. Itulah sebabnya, mengapa Pemerintah Darurat Republik Indonesia baru dibentuk pada tanggal 22 Desember yang berikut, dan tidak pada tanggal 19 Desember itu juga.
|
 |
Tukang tulih Kamardi Rais Dt. P. Simulie Kamih, 14 Juli 2005 / Al-Hamis, 7 Jumada Al-Thani 1426 H
“Tengah malam, hari Selasa, 21 Desember 1948 itu, saya dibangunkan oleh orang ronda yang datang bersama anggota BNPK. Mereka meminta saya segera ke atas. Maksudnya ke lokasi Pabrik Teh Halaban yang terletak di di kaki gunung Sago. Malam itu di Halaban dan sekitarnya amatlah dingin. Jarum jam menunjukkan pukul 12 tengah malam. Katanya Bapak-bapak kita entah Menteri, entah Gubernur, entah Residen, entah siapa, pokoknya ruangan pabrik itu sudah penuh! Kita mau perang dengan Belanda, bukan saja di Padang area, tapi di sini, di desa kita ini! Saya pandang gunung Sago dalam halimun yang dalam. Ternyata sosok gunung itu masih membayang... Republik tidak akan hilang... kataku dalam hati...” (wawancara Penulis dengan Bapak Djojo Soeparto di Halaban, 15 Juni 1959)
|
|
|